Setelah sekian lama dinantikan oleh para fans, Marvel Studios akhirnya mewujudkan keinginan untuk menghadirkan karakter Blade di MCU. Kevin Feige sendiri yang memperkenalkan proyek filmnya pada saat SDCC 2019 kemarin. Feige juga sekaligus memperkenalkan, siapa aktor yang akan memerankan karakter Blade di filmnya. Dan sosok tersebut adalah Mahershala Ali.

Meskipun hal ini tentunya menjadi kabar baik bagi para penggemar MCU, permasalahannya kemudian bagaimana Marvel akan memperkenalkan para vampir ke jagat sinematik tersebut. Ada dua opsi yang bisa dimiliki. Yang pertama adalah para vampir bisa muncul akibat peristiwa di film Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

Tapi, ide pertama ini memiliki kekurangan dimana jika kemudian diterapkan maka ceritanya akan berfokus pada para vampir. Sedangkan, cerita tentang Blade sebagai seorang Daywalker akan terlewatkan. Ide yang kedua mungkin terdengar cukup aneh, tapi bisa saja selama ini vampir sebenarnya sudah ada di MCU.  Namun, kita selama ini tidak mengetahuinya.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang ditampilkan sebagai Easter Egg di film Thor: Ragnarok. Korg menyebutkan bahwa sebuah tombak dengan tiga ujung lancip dideskripsikan sebagai “senjata yang kurang efektif kecuali jika kau bertarung melawan tiga vampir yang sedang berdekatan”. Taika Waititi sendiri sebenarnya sudah menjelaskan bahwa Easter Eggs tersebut hanyalah sebuah referensi biasa dari film vampie What We Do In The Shadows.  Tapi, jika dilihat dari sudut pandang Marvel, artinya vampir bisa saja memang ada di MCU.

Masalah berikutnya adalah apa yang kemudian dilakukan vampir di masa lalu jika memang mereka sudah ada sejak lama? Untungnya ada sebuah komik Marvel yang bisa menjelaskan hal ini, yaitu Death of Dracula, sebuah one-shot yang dirilis pada 2010 dan ditulis oleh Victor Gischler dan Guiseppe Camuncoli.

Bisa Menjelaskan Mengapa Vampir Tidak Terlihat di Marvel Universe

Dalam cerita di Marvel Comics, Dracula bukanlah sebuah legenda. Dracula adalah sosok yang nyata, seorang figur yang berasal dari masa lalu. Dracula merupakan seorang penguasa yang kejam, dia adalah seorang pangeran dari Wallachia yang selalu mengedepankan kekerasan sebagai jalan tengahnya. Dan apa yang dia lakukan, memunculkan pemberontakan dan pertempuran dimana-mana.

Dracula sendiri pada akhirnya harus tewas dalam sebuah pertempuran di tahun 1459, dan dia menderita beberapa luka serius. Dracula kemudian dibawa ke suku Gipsi untuk diobati.  Selama berabad-abad, Dracula diketahui menjadi pemimpin para vampir. Dracula merupakan yang paling kuat diantara mereka. Dracula pada awalnya sempat menyatakan perang secara terbuka kepada manusia, namun dia sadar bahwa ini sangat berbahaya.

Vampir mungkin lebih kuat dibanding manusia, tapi tentunya tidak semua manusia sama, dan juga vampir bukanlah makhluk abadi yang artinya mereka bisa saja mati dibunuh. Dracula memutuskan untuk mundur dan kembali ke kegelapan, membiarkan dirinya dan rasnya menjadi legenda dan mitos. Namun, dalam cerita Death of Dracula semuanya berubah.

Di abad ke 21, pertumbuhan manusia menjadi sebuah masalah bagi vampir. Jumlah populasi manusia yang terus meningkat, membuat tempat bersembunyi para vampir semakin sedikit. Mereka semakin “masuk ke dalam” untuk bersembunyi dari manusia. Xarus, anak dari Dracula, kemudian membuat sebuah rencana sendiri karena menganggap cara lama yang dilakukan oleh ayahnya sudah tidak lagi bekerja dengan maksimal.

Xarus kemudian bekerja sama dengan klan vampir lain untuk melawan kekuasaan ayahnya. Xarus kemudian membunuh Dracula secara diam-diam, menusuknya dengan sebuah tongkat bambu yang tajam yang menghujam jantungnya. Akhir kepemimpinan Dracula menjadi awal dari kepemimpinan Xarus. Dan setelah dia menggantikan posisi ayahnya, Xarus memerintahkan para vampir untuk terbuka kepada manusia. Dimulai dengan melakukan penyerangan ke San Francisco dan ke wilayah lainnya.

BERSAMBUNG KE HALAMAN 2