Kali ini kita akan membahas sebuah konsep besar nan rumit yang tengah populer di dunia superhero Marvel dan DC, yaitu multiverse. Dalam ilmu kosmologi, multiverse sendiri adalah teori hipotesis yang menggambarkan kelompok semesta alternatif yang kurang lebih mirip seperti semesta kita, tetapi mempunyai proses dan hasil yang berbeda-beda. Nah, Marvel dan DC sendiri sebenarnya sama-sama terinspirasi dari teori tersebut, tetapi mereka mempunyai cara masing-masing dalam menerapkannya. Seperti apa perbedaan antara konsep multiverse di Marvel dan DC? Mari langsung saja kita bahas, Geeks.
Multiverse Marvel Berkembang Linier
Sebelum membahas multiverse DC, untuk lebih mudah memahami perbedaan di antara keduanya, mari kita mulai dari Marvel yang konsepnya berkembang secara linier dari dahulu hingga sekarang. Multiverse Marvel lahir dari peristiwa kosmik yang terjadi pada awal penciptaan alam semesta. Awalnya hanya ada satu semesta di Marvel, tetapi saat kelompok kosmik Aspirant dan Celestial berperang, semesta diceritakan terpecah menjadi beberapa bagian yang akhirnya disebut multiverse. Multiverse sendiri telah beberapa kali hancur dan yang sekarang eksis adalah versi ketujuh yang disebut Seventh Cosmos.
Multiverse Marvel yang sekarang terdiri dari banyak semesta yang jumlahnya tidak terbatas. Walaupun begitu ada beberapa hal yang selalu menjadi ciri khas dari masing-masing semesta, seperti karakter ikonik yang kurang lebih sama. Misalnya Sorcerer Supreme, Spider-Totem (Spider-Man), dan Captain Britain, yang eksis di setiap semesta. Kelahiran dari setiap semesta sendiri pada umumnya disebabkan oleh sebuah peristiwa yang sama di sebuah timeline, tetapi mempunyai hasil yang berbeda. Dengan kata lain, cabang dari timeline lah yang akhirnya melahirkan semesta baru di multiverse Marvel.
Hasil dari cabang timeline ini bisa kita lihat di komik What If yang rilis perdana pada tahun 70-an. Salah satunya yang menceritakan bagaimana jadinya jika yang digigit laba-laba radioaktif dan jadi Spider-Man adalah Flash Thompson bukan Peter Parker, dan sebagainya. Kisah cabang timeline dan kelahiran multiverse Marvel ini juga telah diperlihatkan di serial MCU Loki. Jadi dengan kata lain cabang timeline sangat berpengaruh terhadap kelahiran sebuah semesta baru di multiverse Marvel. Konsep ini pada akhirnya membuat semesta komik, MCU, game Marvel, dan semuanya berada di satu multiverse yang sama.
Multiverse DC Lebih Beragam dan Luas
Setelah membahas multiverse Marvel yang konsepnya linier atau bergerak lurus, sekarang mari kita masuk ke perbedaan konsep di DC. Awalnya DC pre-Crisis juga mempunyai satu multiverse yang di dalamnya terdapat banyak semesta. Semuanya bermula saat entitas kosmik Crona menciptakan seluruh multiverse DC, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Anti-Monitor di kisah Crisis on Infinite Earths (1985). Peristiwa tersebut pada akhirnya justru menggabungkan seluruh semesta menjadi satu semesta ‘New Earth’. Namun, karena tidak stabil, akhirnya New Earth kembali pecah menjadi multiverse di era 52.
Pada tahun 2011, DC kembali mengubah eksistensi multiverse 52 melalui kisah Flashpoint yang akhirnya melahirkan multiverse ‘New 52’. Di mana seluruh karakter dan canon lama dibuang, kemudian diganti dengan karakter dan origin yang sepenuhnya baru, termasuk Superman dan para karakter tambahan lainnya. Namun, karena menerima banyak kritik dari penggemar veteran, DC lagi-lagi mengubah konsep multiversenya dengan peristiwa Convergence (2015), yang mengukuhkan bahwa selain multiverse baru DC ada juga multiverse lama pre-Crisis dan multiverse lainnya yang eksis secara bersamaan.
Jadi perbedaan terbesar konsep multiverse DC dan Marvel terletak pada banyaknya multiverse yang eksis di DC, termasuk multiverse serial Arrowverse, multiverse game, multiverse jagat sinema DCU, multiverse komik DC lain (Vertigo, Charlton, Watchmen, WildStorm), yang terpisah tetapi tetap merupakan satu kesatuan DC. Dengan kata lain sekarang dc tidak terlalu memfokuskan pada satu multiverse saja, mereka justru lebih fokus untuk menyajikan cerita yang menarik di mana pun multiversenya. Itulah mengapa multiverse DC lebih luas dan beragam karena setiap medianya punya multiverse sendiri.
Kesimpulan, Keduanya Sama-Sama Unik
Dari penjabaran dua konsep multiverse di atas, cukup jelas bahwa konsep di DC dan Marvel mempunyai perbedaan yang cukup mendasar. Di mana multiverse Marvel mempunyai awal dan tujuan yang jelas dari dahulu sampai sekarang, dengan semua semesta di berbagai media Marvel berada di satu multiverse yang sama. Jadi bisa dibilang Marvel mendahulukan konsep multiversenya sebagai ‘wadah besar’, setelah itu baru semua cerita yang ada di dalamnya mengikuti aturan yang telah ada.
Sedangkan DC justru memiliki konsep multiverse yang tidak terlalu mengikat. Mereka hanya mengangkat konsep tersebut jika memang diperlukan, seperti di kisah-kisah khusus Crisis on Infinite Earths atau Convergence. Jika seorang penulis baru ingin membawa kisah baru, DC tidak mengharuskannya untuk masuk ke multiverse tertentu, semuanya terserah bagaimana penulis dan penggemar menerjemahkannya. Itu artinya bisa kita simpulkan bahwa DC lebih mendahulukan ceritanya, entah itu komik, game, atau film, baru setelah itu semuanya dibebaskan untuk mempunyai multiversenya masing-masing.
Itulah pembahasan tentang perbedaan konsep multiverse di Marvel dan DC. Mungkin pembahasan kali ini masih belum bisa memuaskan rasa penasaran kalian. Namun, setidaknya secara garis besar kita bisa tahu bahwa multiverse Marvel hanya satu, sedangkan multiverse DC lebih beragam. Keduanya mempunyai keunikan masing-masing yang membuat setiap ceritanya masih bisa dinikmati oleh para penggemar.













