Industri hiburan global kembali diguncang setelah muncul kabar lanjutan mengenai merger besar antara Netflix dan Warner Bros. Kesepakatan bernilai fantastis tersebut bukan hanya memicu perdebatan soal dominasi pasar, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius dari pelaku bisnis bioskop. Isu terbarunya menyebut bahwa Netflix berpotensi membatasi masa tayang film Warner Bros di layar lebar hanya selama 17 hari sebelum masuk ke platform streaming.

Reaksi keras datang dari berbagai jaringan bioskop yang menilai langkah tersebut dapat mengubah secara drastis ekosistem perfilman. Tak lama setelah rencana akuisisi diumumkan, Cinema United menyuarakan penolakan mereka secara terbuka. Menurut organisasi tersebut, penggabungan dua raksasa hiburan ini berisiko besar menggerus pendapatan box office tahunan dan melemahkan posisi bioskop sebagai ruang utama menikmati film.

Kekhawatiran tersebut berangkat dari model bisnis Netflix yang selama ini lebih mengutamakan distribusi digital. Meskipun sejumlah film Netflix memang sempat diputar di bioskop, durasinya kerap sangat terbatas. Jika pola serupa diterapkan pada film-film Warner Bros yang selama ini dikenal memiliki rilis teatrikal besar, maka dampaknya dinilai akan sangat signifikan, termasuk potensi hilangnya seperempat pendapatan box office domestik.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, CEO Netflix Ted Sarandos mencoba meredam kekhawatiran publik. Ia menegaskan bahwa Netflix tidak menutup pintu bagi pemutaran film di bioskop dan menyebut pihaknya telah merilis puluhan judul ke layar lebar dalam setahun terakhir. Namun, Sarandos juga menekankan bahwa Netflix memandang jendela eksklusif bioskop yang terlalu panjang sebagai sesuatu yang kurang ramah bagi penonton modern.

Pernyataan Sarandos tentang perlunya “evolusi” dalam pola distribusi justru memunculkan spekulasi baru. Sumber industri menyebut bahwa Netflix tengah mempertimbangkan masa tayang bioskop selama 17 hari, jauh lebih singkat dibanding standar tradisional 30 hingga 45 hari yang ingin dipertahankan oleh jaringan bioskop besar seperti AMC. Angka ini dianggap cukup bagi Netflix untuk menangkap momentum awal penonton, mengingat sebagian besar pendapatan film memang diperoleh dalam dua hingga tiga pekan pertama.

Namun bagi bioskop, durasi tayang yang lebih panjang bukan sekadar soal keuntungan satu judul film. Jendela eksklusif yang memadai dinilai penting untuk menjaga daya tarik pengalaman menonton di bioskop sebagai sebuah acara istimewa, bukan sekadar pilihan sementara sebelum film tersedia secara daring.

Meski demikian, laporan tersebut belum mengonfirmasi bahwa kebijakan 17 hari akan benar-benar diterapkan. Masih ada kemungkinan Netflix bersikap fleksibel, terutama jika sebuah film terbukti sukses besar dan terus menarik penonton. Namun satu hal yang jelas, wacana ini menegaskan bahwa pasca-merger Netflix dan Warner Bros, pertarungan antara layar lebar dan streaming akan memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks.