Mungkin semua orang di seluruh dunia sepakat bahwa Joker adalah salah satu supervillain paling berbahaya yang pernah diperkenalkan oleh DC, khususnya sebagai tandingan dari sang Caped Crusader Batman. Joker adalah villain populer DC yang pertama kali melakukan debutnya sejak tahun 1940 di komik perdana Batman #1. Dengan karakternya yang misterius sekaligus brutal, sampai saat ini sudah ada banyak sekali inkarnasi Joker yang diperkenalkan di berbagai media DC, dari mulai video game sampai layar lebar.

Khusus untuk layar lebar sendiri, sejauh ini karakter Joker telah sukses diperankan oleh banyak aktor berbakat yang hadir di filmnya masing-masing, dari mulai film Batman yang dirilis pada tahun 1989, sampai film solo Joker yang penayangannya sangat sukses pada tahun 2019 lalu. Meskipun berbagai inkarnasi Joker tersebut umumnya digambarkan sebagai karakter psikopat yang sadis, tetapi mereka mempunyai beberapa motivasi yang cukup berbeda. Lantas apa yang sebenarnya mendasari Joker menjadi villain? Mari kita ungkap fakta yang sebenarnya, Geeks!

Inkarnasi Joker yang Beragam

Meskipun di DC Comics karakter Joker tidak terlalu berubah secara drastis, tetapi penggambaran karakter live action-nya di film justru hadir lebih beragam. Dimulai dengan versi di film Batman (1989) yang diperankan oleh Jack Nicholson, Joker hadir sebagai karakter nyentrik yang mempunyai selera humor sadis. Motivasinya sebagai villain muncul karena dia adalah seorang gangster yang egonya sangat tinggi sekaligus narsis, itulah mengapa dia ingin selalu menjadi pusat perhatian di Kota Gotham, baik sebagai gangster maupun sebagai musuh Batman.

Joker live action yang kedua diperankan oleh aktor pemenang Oscar, Heath Ledger, di film The Dark Knight (2008). Dalam filmnya, sutradara Christopher Nolan menggambarkan karakter Joker sebagai sosok yang anarkis dari segi sifat dan juga cara bicaranya. Hal yang membuatnya termotivasi untuk menjadi penjahat di Kota Gotham adalah karena dia ingin mengungkap jati diri manusia yang sebenarnya ketika tidak ada hukum yang berlaku. Itulah mengapa pada akhirnya dia menciptakan karakter jahat seperti Harvey Dent alias Two-Face yang awalnya adalah seorang pengacara yang dipuja-puja oleh masyarakat.

Joker berikutnya adalah versi Jared Leto yang muncul sekilas di film Suicide Squad (2016). Walaupun tidak sepopuler Joker lain, tetapi Leto berhasil menggambarkan karakter Clown Prince of Crime dengan cukup menarik. Di filmnya Joker hadir sebagai villain psikopat yang sangat impulsif ketika melakukan sesuatu yang kejam. Hampir semua Joker memang digambarkan sebagai karakter yang kejam, tetapi versi Leto hadir sebagai “orang gila” yang tidak terlalu banyak perhitungan dan juga perencanaan ketika melakukan kejahatannya. Motivasinya hanya sekadar melakukan kekejaman agar dia merasa puas.

Dan Joker yang terakhir adalah versi paling manusiawi yang diperankan oleh Joaquin Phoenix. Film Joker yang sempat kontroversial ini telah berhasil menggambarkan dengan jelas karakter Joker yang tumbuh dari seseorang yang awalnya “baik” kemudian menjadi sangat jahat karena keadaan hidupnya. Sebagai seseorang yang mengalami gangguan mental, Joker hadir sebagai karakter yang akhirnya menerima “kekacauan” di dalam hati dan juga lingkungannya, di mana pada akhirnya dia menjadi penjahat yang brutal karena merasa tidak ada yang mengerti kondisinya.

Menjadi Penyeimbang

Dengan semua karakternya yang beragam dan latar belakangnya yang berbeda, jadi apa sebenarnya yang melandasi motivasi Joker sebagai villain? Dari sekian banyak inkarnasi Joker yang telah diperkenalkan di film layar lebar, hanya ada satu persamaan yang menjadi benang merah di antara semuanya, yaitu menjadi penyeimbang Batman di semestanya. Karakter Joker versi Nicholson dihadirkan sedemikian kuatnya sebagai gangster karena Batman yang diperankan oleh Michael Keaton juga hadir sebagai sosok pemberani yang sangat kuat dan juga dicintai oleh masyarakat kota Gotham.

Kemudian Joker versi mendiang Ledger hadir sebagai sosok yang ingin mengungkap sifat asli manusia, karena Batman yang diperankan Christian Bale digambarkan sebagai karakter yang berusaha menyembunyikan identitas aslinya dan tampak masih belum bisa menerima masa lalunya. Sedangkan Joker versi Leto yang gila dan impulsif dihadirkan sebagai karakter DC Extended Universe yang dimaksudkan untuk menjadi penyeimbang bagi Batman versi Ben Affleck yang juga brutal dan terlihat lebih “tegar” jika dibanding inkarnasi Batman lainnya.

Khusus untuk Joker versi Phoenix, dia dihadirkan sebagai penyeimbang Thomas Wayne yang pada saat itu hadir sebagai sosok kaya dan juga berkuasa. Dengan kekayaan dan kekuasaannya, Thomas berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama baiknya, sehingga karakter Joker hadir sebagai sosok lemah dan juga miskin yang pada akhirnya dengan berani mengakui jati dirinya kepada publik sebagai seorang penjahat yang selama ini mereka khawatirkan. Singkatnya, motivasi Joker yang sebenarnya adalah secara tidak langsung ingin menjadi penyeimbang Batman di Kota Gotham dan DC secara keseluruhan.

Itulah pembahasan mengenai motivasi sebenarnya mengapa Joker muncul sebagai villain. Dan benang merah yang menghubungkan semuanya adalah karena Joker hadir sebagai penyeimbang dari karakter Batman, seperti yin dan yang. Terlepas dia adalah versi Nicholson yang merupakan seorang gangster, versi Ledger yang anarkis, versi Leto yang psikopat, atau versi Phoenix yang latar belakangnya tragis, semuanya menyesuaikan dengan keadaan Batman di semestanya. Bagaimana menurut kalian, Geeks?

Egie
Sejak bergabung dengan Greenscene pada 2021, Egie adalah content writer yang memiliki passion tinggi untuk topik pop culture seputar komik, film dan series.