Setelah beberapa tahun lebih banyak berkutat dengan proyek aksi modern, Michael Bay kini kembali melirik genre perang yang pernah membesarkan namanya. Sutradara di balik film-film penuh aksi skala besar dan adegan ledakan spektakuler itu dikabarkan sedang menyiapkan proyek baru yang terinspirasi dari operasi militer nyata dengan latar misi penyelamatan berisiko tinggi.
Proyek tersebut akan dikembangkan bersama Universal Pictures dan mengambil inspirasi dari peristiwa Operasi Epic Fury. Ceritanya berfokus pada momen ketika dua personel Amerika Serikat terjebak di wilayah berbahaya setelah pesawat tempur F 15E Strike Eagle yang mereka gunakan ditembak jatuh. Misi penyelamatan yang kemudian dilakukan disebut menjadi salah satu operasi paling rumit dan menarik perhatian dunia internasional.

Menariknya, kisah ini bukan berasal dari naskah orisinal, melainkan diangkat dari buku terbaru karya Mitchell Zuckoff yang baru akan dirilis pada 2027. Nama Zuckoff sendiri tidak asing bagi Bay karena penulis tersebut sebelumnya juga menulis buku yang menjadi dasar adaptasi 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi.
Bagi Michael Bay, proyek bertema militer bukan wilayah baru. Selama puluhan tahun, ia kerap bekerja sama dengan institusi militer Amerika untuk kebutuhan produksi film. Kolaborasi itu terjadi dalam berbagai proyek besar seperti The Rock, Armageddon, hingga Pearl Harbor. Dukungan logistik berupa perlengkapan militer dan personel aktif selama ini menjadi bagian penting dalam membangun kesan realistis pada film film garapannya.
Bay pun menjelaskan alasan ketertarikannya terhadap proyek baru tersebut. Ia mengatakan, “Selama 30 tahun saya memiliki hubungan luar biasa dengan militer Amerika Serikat. Dalam 13 Hours, tidak ada tim penyelamat yang datang. Kali ini ceritanya berbeda. Film ini mengangkat orang orang yang benar benar menjawab panggilan dalam salah satu operasi paling kompleks dan berbahaya yang pernah terjadi. Ini adalah kisah tentang keberanian dan pengabdian.”
Namun perjalanan film ini kemungkinan tidak akan sepenuhnya mulus. Beberapa karya perang Bay sebelumnya sempat menuai kritik karena dianggap terlalu dramatis dan longgar dalam mengikuti fakta sejarah. Dengan tema konflik Iran yang masih sensitif dan memunculkan banyak perdebatan, proyek terbaru sang sutradara diperkirakan kembali menjadi sorotan, terutama terkait bagaimana film tersebut menggambarkan operasi militer di dunia nyata.










