Setelah Avengers: Secret Wars menutup Multiverse Saga, Marvel Studios akan menghadapi situasi yang sangat penting untuk MCU. Selama lebih dari satu dekade, MCU berkembang melalui pola yang cukup jelas. Setiap fase dibangun menuju ancaman besar, memperkenalkan karakter baru, lalu perlahan menghubungkan semuanya menuju satu konflik utama. Formula tersebut berhasil luar biasa saat Infinity Saga, tetapi perjalanan Multiverse Saga memperlihatkan bahwa skala besar saja tidak selalu cukup.

Selama beberapa tahun terakhir, respons penonton terhadap MCU terasa jauh lebih beragam. Sebagian proyek diterima positif, sebagian lain memunculkan perdebatan panjang. Banyak penonton mulai merasa bahwa terlalu banyak karakter, terlalu banyak proyek, dan terlalu banyak konsep membuat arah besar MCU terasa kurang fokus. Di sisi lain, Marvel juga harus menghadapi tantangan baru karena generasi karakter utama mereka perlahan berubah.

Karena itulah, setelah Secret Wars, Marvel kemungkinan membutuhkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar ancaman yang lebih besar atau ledakan yang lebih spektakuler, melainkan fondasi baru yang membuat penonton kembali merasa terhubung dengan dunia MCU. Jika melihat situasi sekarang, ada beberapa arah yang terasa jauh lebih masuk akal dan mungkin lebih efektif dibanding terus memaksakan konsep multisemesta yang lebih rumit.

MCU Kembali Membumi

Salah satu kekuatan terbesar Infinity Saga dulu sebenarnya bukan Thanos atau Infinity Stones. Yang membuat era tersebut berhasil adalah hubungan penonton dengan karakter-karakternya. Orang mengikuti perjalanan Tony Stark dari pria egois menjadi pahlawan pengorbanan. Penonton melihat Steve Rogers tumbuh sebagai simbol moral, atau menyaksikan Thor berubah dari pangeran arogan menjadi sosok yang lebih manusiawi. Penonton tidak hanya menunggu pertarungan besar, tetapi juga peduli pada kehidupan orang-orang di dalamnya.

Hal itu sedikit berbeda pada Multiverse Saga. Marvel memperkenalkan banyak nama baru dalam waktu singkat. Ada karakter dari serial, film, hingga berbagai cabang cerita yang muncul hampir bersamaan. Akibatnya, sebagian penonton merasa sulit membangun kedekatan emosional seperti sebelumnya. Beberapa karakter belum sempat berkembang, tetapi cerita sudah bergerak menuju ancaman skala multisemesta.

Karena alasan itu, pasca Secret Wars, Marvel tampaknya perlu menurunkan tempo. Bukan berarti MCU harus meninggalkan konflik besar sepenuhnya, tetapi mereka bisa memulai kembali dari skala yang lebih kecil. Konflik yang lebih personal sering kali justru terasa lebih efektif. Ketika ancaman menyentuh kehidupan karakter secara langsung, dampaknya sering kali lebih kuat dibanding ancaman kehancuran dunia yang terasa terlalu jauh.

Marvel juga memiliki banyak karakter jalanan yang belum benar-benar dimaksimalkan. Sosok seperti Spider-Man, Daredevil, Punisher, Hawkeye, hingga karakter baru seperti Kate Bishop bisa menjadi fondasi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih langsung menghadapi ancaman kosmik, mereka bisa menghadapi konflik yang lebih sederhana namun emosional, seperti perang kriminal, perebutan wilayah, atau ancaman terhadap orang-orang terdekat.

Pendekatan semacam itu juga memberi waktu bagi penonton untuk kembali mengenal karakter baru MCU. Salah satu alasan mengapa The Avengers tahun 2012 berhasil adalah karena penonton lebih dulu mengenal para tokohnya. Mereka tidak muncul sekaligus dalam satu proyek besar. Setiap karakter punya ruang untuk tumbuh sebelum akhirnya dipertemukan.

Jika Marvel kembali memakai pendekatan serupa, kemungkinan besar dunia MCU akan terasa lebih terarah. Penonton tidak dipaksa menghafal puluhan tokoh baru sekaligus, dan cerita bisa kembali dibangun secara perlahan. Terkadang, langkah mundur justru dibutuhkan agar lompatan berikutnya terasa lebih besar.

Era Mutan Versi MCU – Ke Halaman 2

1
2
3
Ridwanto Rizki
Ridwan adalah writer, jurnalis, sekaligus penikmat film-film indie.