Sutradara Zack Snyder mengungkapkan konsep awal yang sempat ia rancang untuk film Aquaman, sebelum akhirnya versi tersebut tidak digunakan oleh studio karena pada akhirnya digarap oleh James Wan. Dalam penjelasannya, Snyder menyebut bahwa pendekatan ceritanya akan jauh lebih personal dan berfokus pada asal-usul karakter Arthur Curry, termasuk latar emosional yang membentuk identitasnya.

Konsep tersebut dikembangkan bersama Jason Momoa, yang memerankan Aquaman, dengan tujuan mengangkat akar budaya Pasifik yang dimiliki karakter tersebut. Dalam versi Snyder, kisah dimulai dari tragedi yang melibatkan ayah Arthur, yang tewas akibat konflik dengan ayah dari Black Manta, sehingga memicu konflik pribadi yang lebih dalam antara kedua karakter.

Snyder menjelaskan bahwa setelah kejadian tersebut, Arthur akan membawa abu ayahnya ke komunitasnya di kepulauan Pasifik untuk menjalani ritual kremasi. Dalam momen duka itu, ia mendapatkan tato sebagai simbol penghormatan dan identitas. “Konsep ini saya kembangkan bersama Jason sebelum film dibuat, untuk menghormati akar budaya Pasifiknya,” ujar Snyder.

Ia juga menambahkan bahwa karakter Vulko memiliki peran penting dalam proses tersebut. Vulko digambarkan menyediakan alat khusus dari Atlantis yang mampu menembus kulit Arthur yang kuat, sehingga tato tersebut menjadi simbol permanen yang menghubungkan warisan manusia dan Atlantean dalam dirinya.

Sebagian elemen dari ide ini sempat disinggung dalam Zack Snyder’s Justice League, meski tidak sepenuhnya diwujudkan dalam film solo Aquaman versi akhir yang disutradarai James Wan. Versi yang dirilis akhirnya mengambil pendekatan yang lebih ringan dan berbeda dari visi awal Snyder.

Meski tidak pernah terealisasi sepenuhnya, konsep tersebut menunjukkan arah cerita yang lebih gelap dan emosional untuk karakter Aquaman. Hingga kini, masih menjadi spekulasi bagaimana hasilnya jika visi Snyder benar-benar diangkat ke layar lebar sebagai bagian dari pengembangan semesta DC saat itu.