The Boys selalu dikenal dengan penggambaran psikologi karakternya yang rusak, namun pada Musim ke-5, Episode 3 yang bertajuk “Every One of You Sons of B*tches”, kita menyaksikan keruntuhan mental Homelander yang mencapai titik nadir. Setelah mengetahui bahwa ayahnya, Soldier Boy, masih hidup di episode sebelumnya, Homelander kini terobsesi dengan gagasan keabadian melalui sesuatu yang disebut Compound V-One. Ambisi ini bukan sekadar keinginan untuk menjadi kuat, melainkan manifestasi dari rasa takutnya akan penuaan dan kematian. Dalam usahanya memenangkan perang melawan Billy Butcher, dan frustasinya akan perasaan direndahkan oleh para musuh dan Soldier Boy yang merupakan ayah dari Homelander, ia mulai kehilangan pegangan pada realitas, menciptakan delusi yang mengerikan sekaligus megah di dalam pikirannya.

Ketegangan emosional ini memuncak dalam sebuah adegan yang sangat surealis dan provokatif: kehadiran Madelyn Stillwell. Namun, Stillwell tidak muncul sebagai manusia biasa; ia hadir sebagai sosok malaikat bercahaya yang memberikan pembenaran atas segala kekejaman yang sedang direncanakan oleh Homelander.

Munculnya Stillwell sebagai visi malaikat sangat masuk akal mengingat God-complex yang diderita Homelander sejak lama. Dengan ambisinya mengejar V1, ia merasa sedang dalam proses transisi dari sekadar “pahlawan super” menjadi Tuhan yang sesungguhnya. Kehadiran figur malaikat ini memberikan validasi religius semu bagi tindakannya. Bagi Homelander, ini adalah wahyu suci. Stillwell mewakili satu-satunya otoritas yang pernah ia hormati dan cintai secara menyimpang, sehingga suara batinnya sendiri menggunakan rupa Stillwell untuk meyakinkan dirinya bahwa ia berada di jalan yang benar.

Dalam visi tersebut, Stillwell memberikan perintah yang sangat mengerikan dan haus darah. Ia memberitahu Homelander bahwa ia akan segera “naik takhta” atau berevolusi, dan sebagai bagian dari proses tersebut, ia harus membaptis orang-orang yang tidak setia dengan darah mereka sendiri. Bahkan, visi ini mendorongnya melakukan kekejaman ekstrem yang melampaui batas moral mana pun, seperti merobek bayi dari rahim ibunya. Meskipun ini mungkin hanya metafora dalam pikirannya, hal tersebut menunjukkan seberapa dalam kebencian dan kegilaan yang kini mengakar di dalam diri sang pemimpin Vought tersebut. Homelander tidak lagi mencari persetujuan masyarakat; ia kini mencari pembersihan total terhadap siapa pun yang dianggapnya tidak layak.

Obsesi Homelander terhadap Stillwell tetap tidak tergoyahkan meski ia sendiri yang membunuhnya di musim pertama. Secara psikologis, visi ini membuktikan bahwa Homelander masih mendambakan kenyamanan keibuan yang tidak pernah ia dapatkan secara normal. Meskipun Firecracker telah mencoba mengisi peran tersebut dengan cara yang ekstrem, tetap saja hanya Stillwell, yang mampu memberikan rasa aman sekaligus arah bagi Homelander di tengah kehancuran mentalnya.

Showrunner Eric Kripke menjelaskan bahwa momen ini adalah sebuah psychotic break atau gangguan psikotik total. Homelander merasa tidak bahagia dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini karena ia masih merasa rentan terhadap waktu. Visi Stillwell memberikan “misi terakhir” kepadanya: menjadi abadi, menjadi Tuhan, dan menghukum siapa pun yang tidak mencintainya dengan tulus. Ini adalah puncak dari perkembangan karakternya di mana rasa malu tidak lagi ada. Jika dulu ia melakukan hal-hal aneh secara sembunyi-sembunyi, kini ia melakukannya secara terbuka di depan umum karena ia percaya dirinya telah dipilih oleh takdir ilahi.

Ke Halaman 2

1
2
Egie
Sejak bergabung dengan Greenscene pada 2021, Egie adalah content writer yang memiliki passion tinggi untuk topik pop culture seputar komik, film dan series.