James Cameron kembali membuka pembicaraan soal masa depan Terminator, waralaba ikonik yang membesarkan namanya jauh sebelum ia kembali tenggelam dalam dunia Pandora lewat seri Avatar. Dua film pertamanya tetap dianggap sebagai standar emas genre fiksi ilmiah dan aksi, namun berbagai sekuel setelah itu tidak mampu menandingi kualitas maupun dampak yang ditinggalkan Cameron. Kini, di tengah meningkatnya isu kecerdasan buatan di dunia nyata, sang sutradara kembali mempertimbangkan kisah baru untuk Terminator.
Dalam wawancara terbarunya dengan io9, Cameron memberi pembaruan penting terkait proses kreatif tersebut. Ia menegaskan bahwa sebuah pendekatan baru sedang ia pikirkan dengan serius, bahkan menyebutnya sebagai fokus utama setelah urusan promosi Avatar: Fire and Ash selesai. “Saya akan punya waktu untuk menulis dan mempertimbangkan proyek-proyek berikutnya begitu pemasaran film ini selesai dalam beberapa minggu,” ujarnya. “Saya punya setumpuk catatan setebal ini, dan itu biasanya cara saya memulai naskah, tentang apa yang ingin saya lakukan untuk film Terminator yang baru. Saya akan benar-benar mencurahkan diri sebagai penulis.”
![]()
Cameron juga mengungkapkan betapa rumitnya merancang cerita baru untuk Terminator di masa sekarang. Menurutnya, kenyataan telah menyusul imajinasi fiksi ilmiah. “Sulit sekali,” katanya jujur. “Fiksi ilmiah sudah menyusul dan bahkan melampaui kita. Kita hidup di dunia fiksi ilmiah sekarang, menghadapi masalah yang dulu hanya ada di buku dan film. Sekarang kita mengalaminya secara nyata.”
Ia kemudian menambahkan bahwa ketidakpastian masa depan membuat proses penulisan menjadi lebih menantang. “Saya tidak akan pernah se-presisi tahun 1984 saat membayangkan cerita pertama, karena saya rasa tak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi satu atau dua tahun dari sekarang,” lanjutnya. “Tapi setidaknya saya ingin membuat kisah yang masih relevan beberapa tahun ke depan.”
Meskipun Cameron tampak sangat bersemangat dengan ide Terminator baru, banyak pengamat meyakini bahwa keputusan akhirnya akan bergantung pada performa Avatar: Fire and Ash. Bila kembali menembus angka dua miliar dolar, besar kemungkinan ia akan lebih dulu menggarap Avatar 4 sebelum proyek lainnya. Cameron diketahui sudah menimbang beberapa cerita lain, termasuk adaptasi novel The Devils dan film berlatar Perang Dunia II tentang bom atom.
Namun, satu hal jelas dari komentarnya: bila Terminator kembali berada di tangan Cameron, film itu hampir pasti akan menghadirkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Ia tampaknya tidak tertarik mengulang formula lama atau sekadar menghadirkan wajah-wajah klasik. Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Cameron bahkan menegaskan, “Saya ditugaskan menulis cerita Terminator baru. Tapi saya kesulitan membuatnya maju karena saya tidak tahu apa yang bisa saya katakan tanpa disalip oleh kejadian nyata. Kita hidup di era fiksi ilmiah sekarang.”
Dengan perkembangan pesat AI di dunia nyata, ide Cameron untuk menghidupkan kembali Terminator terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kini tinggal menunggu apakah ia benar-benar akan kembali ke waralaba yang membentuk kariernya atau memilih fokus ke Pandora untuk beberapa tahun lagi.










