Home MOVIE MOVIE FEATURES 10 Anime Seru Dengan Animasi Jelek!

10 Anime Seru Dengan Animasi Jelek!

Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi penggemar anime selain melihat cerita luar biasa justru gagal karena animasinya buruk. Banyak anime punya konsep keren, karakter menarik, dan musik yang epik, tapi semua itu runtuh saat visualnya tampak kaku, aneh, atau setengah jadi. Dalam dunia anime, kualitas animasi sering kali menjadi pembeda antara mahakarya dan kekecewaan besar. Nah, berikut adalah daftar 10 anime yang sebenarnya seru, tapi gagal meninggalkan kesan karena kualitas animasinya mengecewakan.

10 Helck (2023)

Anime Helck sebenarnya memiliki cerita yang unik dan karakter yang lucu. Mengisahkan tentang seorang pahlawan manusia yang justru menjadi kandidat Raja Iblis, serial ini memadukan elemen komedi dan fantasi dengan sangat menarik. Namun, sayangnya, banyak penggemar manga merasa adaptasi animenya tidak mampu menangkap keindahan dan intensitas dari versi aslinya.

Salah satu masalah terbesar Helck ada pada ketidakrataan kualitas animasi di setiap episodenya. Terkadang wajah karakter berubah bentuk di adegan berbeda, proporsi tubuhnya tidak konsisten, bahkan ekspresi emosi penting sering kali terlihat datar. Hal ini membuat momen serius kehilangan kekuatannya, sementara bagian komedi pun terasa hambar.

Selain itu, penggunaan CGI yang berlebihan membuat beberapa adegan pertempuran terasa canggung dan tidak alami. Padahal, Helck punya banyak potensi untuk menampilkan aksi spektakuler di dunia fantasi yang penuh warna. Akibatnya, alih-alih menjadi anime epik, Helck justru tampak seperti proyek yang dikerjakan terburu-buru.

Meski begitu, cerita dan dialognya tetap cukup kuat untuk membuat penggemar setia bertahan menonton sampai akhir. Namun jika animasinya dibuat lebih rapi dan konsisten, Helck bisa saja menjadi salah satu anime fantasi terbaik di tahun 2023.

9 Tokyo Ghoul √A (2014)

Banyak penggemar sepakat bahwa Tokyo Ghoul musim pertama adalah salah satu anime dark fantasy terbaik di masanya. Atmosfer kelam, pertarungan brutal, dan karakter Kaneki yang tragis berhasil menciptakan kesan mendalam. Sayangnya, semuanya mulai runtuh di musim kedua, Tokyo Ghoul √A. Tidak hanya ceritanya yang menjauh dari manga aslinya, tapi kualitas animasinya juga menurun drastis.

Adegan pertarungan yang seharusnya penuh energi malah dipenuhi frame diam dan sensor berlebihan. Alih-alih memperlihatkan aksi intens antara Ghoul dan investigator, kamera justru menyorot bayangan atau percikan darah yang disamarkan. Akibatnya, momen yang seharusnya menegangkan terasa hambar dan tidak punya dampak emosional.

Selain itu, pergerakan karakter tampak kaku, dan beberapa adegan terasa seperti diulang-ulang. Banyak penonton kecewa karena Tokyo Ghoul √A tidak mampu mempertahankan standar tinggi yang sudah dibangun sebelumnya. Sejak itu, franchise ini terus kesulitan mengembalikan reputasinya.

Padahal, dengan potensi cerita sekuat Tokyo Ghoul, versi anime-nya bisa menjadi mahakarya sejajar dengan Attack on Titan atau Parasyte. Namun karena eksekusinya setengah hati, ia malah masuk daftar anime paling mengecewakan dalam sejarah modern.

8 The Seven Deadly Sins: Season 3 (2019)

Ketika dua musim pertama The Seven Deadly Sins tayang, banyak penonton yang memujinya karena pertarungan epik dan gaya animasi yang penuh energi. Namun semua itu berubah ketika studio produksinya berpindah tangan dari A-1 Pictures ke Studio DEEN. Perubahan ini membawa dampak besar yang langsung terlihat di musim ketiganya.

Salah satu momen yang paling membuat fans kecewa adalah pertarungan legendaris antara Escanor dan Meliodas. Adegan yang seharusnya menjadi klimaks penuh kemegahan malah terlihat seperti animasi kilat dengan gerakan kaku dan minim efek cahaya. Bukan hanya tidak seru, tapi juga sulit dinikmati secara visual.

Penurunan kualitas animasi ini bahkan menjadi bahan olok-olok di internet, dengan banyak meme yang menyoroti wajah-wajah karakter yang terlihat “meleleh” atau ekspresi aneh di tengah pertarungan. Sayang sekali, karena dari sisi cerita, musim ini masih punya momen emosional yang kuat.

Meski begitu, banyak penggemar tetap setia karena kecintaan mereka pada karakter seperti Ban dan King. Namun jelas bahwa kualitas gambar The Seven Deadly Sins tidak pernah lagi kembali ke masa kejayaannya seperti dua musim pertama.

7 Kingdom Season 1 dan 2 (2012)

Manga Kingdom dianggap sebagai salah satu kisah peperangan terbaik dalam sejarah manga Jepang. Ceritanya menggambarkan masa perang antar kerajaan di Tiongkok dengan skala besar, strategi perang, dan karakter-karakter kuat yang karismatik. Sayangnya, dua musim pertama adaptasi animenya justru membuat banyak penonton kecewa berat.

Masalah utamanya adalah penggunaan CGI yang tidak menyatu dengan animasi 2D. Adegan pertempuran besar yang seharusnya terasa epik malah terlihat seperti permainan video jadul. Wajah dan tubuh karakter sering kali tidak sinkron dengan latar belakang digitalnya, membuat keseluruhan tampilan terasa aneh.

Banyak fans yang bertahan menonton hanya karena mereka sudah mencintai ceritanya, bukan karena visualnya. Mereka berharap bahwa versi anime bisa memperlihatkan kebesaran perang seperti dalam manga. Untungnya, kritik keras dari para penggemar membuat studio akhirnya memperbaiki kualitas animasi di musim ketiganya.

Kini, Kingdom versi terbaru telah jauh lebih baik dan berhasil mendapatkan kembali kepercayaan penggemarnya. Namun dua musim awal tetap menjadi contoh bagaimana animasi yang buruk bisa merusak cerita sebaik apa pun.

6 Berserk (2016)

Bagi penggemar manga, Berserk adalah karya legendaris yang hampir sempurna. Dunia gelap penuh monster, peperangan brutal, dan kisah tragis sang pendekar Guts menjadikannya salah satu manga terbaik sepanjang masa. Versi anime tahun 1997 memang tidak sempurna, tapi tetap dianggap adaptasi yang solid dan menghormati karya aslinya. Sayangnya, semua pujian itu hilang ketika versi anime 2016 dirilis.

Setelah dua dekade penantian, para fans justru disuguhi animasi 3D CGI yang kaku dan aneh. Gerakan karakter tampak seperti robot, dan sudut kamera sering membuat adegan aksi terasa membingungkan. Padahal, salah satu kekuatan utama manga Berserk adalah detail visualnya yang luar biasa, dengan tiap panel terasa hidup dan kelam. Semua keindahan itu hilang di versi animenya.

Bahkan momen-momen besar seperti pertarungan Guts melawan makhluk raksasa kehilangan daya emosional karena efek animasi yang tidak halus. Banyak penonton yang berhenti menonton setelah beberapa episode karena sulit menikmati visualnya.

Meski begitu, sebagian penggemar masih mencoba menghargai niat baik tim produksi untuk melanjutkan kisah epik ini. Tapi tidak bisa dipungkiri, Berserk (2016) adalah contoh nyata bagaimana teknologi CGI yang salah penerapan bisa menghancurkan warisan sebuah karya besar.

5 Kemono Friends Season 2 (2019)

Anime Kemono Friends musim pertama sempat menjadi kejutan besar di dunia anime. Dengan konsep sederhana dan animasi 3D yang lucu, ceritanya justru berhasil menyentuh hati banyak penonton. Namun ketika musim keduanya tiba, semua hal baik itu seolah lenyap.

Studio produksinya diganti, begitu pula dengan sebagian besar staf dan sutradaranya. Pergantian besar ini membawa dampak negatif pada kualitas animasi dan cerita. Gaya visual yang seharusnya hangat dan penuh pesona berubah menjadi datar dan canggung. Gerakan karakter tampak lebih kaku, dan ekspresi wajah kehilangan keimutan yang membuat musim pertama begitu menawan.

Selain itu, arah cerita terasa terburu-buru dan tidak lagi punya kehangatan emosional. Banyak penggemar merasa bahwa studio baru gagal memahami kenapa Kemono Friends pertama bisa begitu dicintai. Akibatnya, musim kedua dihujani kritik keras di internet dan bahkan menurunkan reputasi waralabanya secara keseluruhan.

Jika Kemono Friends pertama adalah contoh keajaiban dari proyek kecil yang sukses besar, maka musim keduanya jadi pelajaran pahit bahwa tanpa tim yang solid dan konsisten, pesona itu bisa lenyap dalam sekejap.

4 Inferno Cop (2012)

Kalau kamu mencari anime dengan animasi halus dan indah, Inferno Cop jelas bukan pilihan yang tepat. Anime ini dibuat dengan gaya super minimalis, bahkan hampir tidak ada gerakan sama sekali. Banyak adegan hanya menampilkan gambar diam yang digeser atau diputar. Meski begitu, keanehan inilah yang membuatnya unik.

Inferno Cop sebenarnya adalah proyek eksperimental dari Studio Trigger, dibuat dengan anggaran rendah dan durasi super pendek. Ceritanya tentang seorang polisi tengkorak berkepala api yang memburu penjahat untuk membalas dendam keluarganya. Gaya visualnya memang tampak seperti buatan anak SMA dengan software animasi gratis, tapi justru itulah daya tariknya bagi sebagian penonton.

Namun, bagi mereka yang mengharapkan anime aksi serius, hasilnya jelas mengecewakan. Tidak ada pergerakan halus, efek ledakan terlihat seperti potongan kertas, dan setiap adegan terasa seperti lelucon. Beberapa orang menganggapnya “anime parodi,” tapi bagi yang tak tahu konteksnya, Inferno Cop tampak seperti proyek gagal.

Meski begitu, anime ini akhirnya jadi kultus tersendiri di kalangan penggemar humor absurd. Inferno Cop menunjukkan bahwa kadang animasi jelek bisa sengaja dibuat untuk komedi. Sayangnya, kalau kamu mencari tontonan dengan kualitas visual baik, sebaiknya lewatkan yang satu ini.

3 Initial D (1998 – 2006)

Initial D adalah anime legendaris di dunia balapan mobil. Musik Eurobeat, jalanan pegunungan, dan aksi drifting menjadi daya tarik utamanya. Namun di balik kepopulerannya, seri ini juga terkenal karena animasi 3D-nya yang kaku dan tidak alami.

Saat pertama kali dirilis pada 1998, kombinasi antara animasi 2D dan 3D sebenarnya dianggap inovatif. Tapi seiring waktu, teknologi yang digunakan terasa semakin usang. Mobil-mobil yang seharusnya tampak cepat malah terlihat seperti mainan yang meluncur di jalur lurus. Pohon, lampu, dan jalanan pun tampak seperti model komputer dari awal tahun 2000-an.

Beberapa penggemar menganggap kekakuan animasi itu justru jadi ciri khas Initial D, tapi banyak juga yang merasa terganggu karena pergerakan mobil dan karakter tidak sinkron. Adegan ekspresi wajah pun sering terlihat aneh, dengan mulut yang tidak pas dengan dialog.

Walaupun begitu, Initial D tetap dicintai berkat ceritanya yang penuh semangat dan musiknya yang ikonik. Namun secara visual, sulit menyangkal bahwa anime ini kalah jauh dari standar animasi modern. Kalau saja versi remake dengan CGI modern dibuat, mungkin kisah Takumi akan jauh lebih seru untuk ditonton.

2 Uzumaki (2024)

Adaptasi anime Uzumaki sempat membuat para penggemar horor antusias luar biasa. Bayangkan saja, karya legendaris Junji Ito yang penuh detail menakutkan akhirnya dihidupkan dalam bentuk animasi. Trailer awalnya terlihat menjanjikan dengan gaya gambar hitam putih yang mirip manga, membuat banyak orang yakin bahwa ini akan menjadi anime horor terbaik tahun itu.

Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi. Setelah episode pertama yang cukup memikat, kualitas animasinya menurun drastis di episode berikutnya. Gaya goresan yang seharusnya memberi kesan menyeramkan malah tampak berantakan, dan beberapa adegan terasa tergesa-gesa. Banyak penggemar merasa atmosfer horor khas Junji Ito tidak bisa tersampaikan dengan baik karena pacing yang terburu-buru dan ekspresi karakter yang datar.

Selain itu, jumlah episodenya yang hanya empat membuat ceritanya terasa padat dan kehilangan tensi menakutkan yang ada di manganya. Visual spiral yang seharusnya menimbulkan rasa mual dan takut malah terlihat seperti efek sederhana. Akibatnya, keindahan horor psikologis khas Uzumaki tidak sepenuhnya muncul.

1 One Punch Man Season 3 (2025)

Setelah enam tahun penantian panjang, penggemar akhirnya disuguhi One Punch Man Season 3. Hype-nya luar biasa karena banyak yang berharap kualitasnya bisa menyamai musim pertama yang fenomenal. Sayangnya, begitu episode perdananya tayang, sebagian penonton langsung merasa kecewa dengan animasinya.

Masalah utamanya bukan pada desain karakter, karena secara warna dan gambar terlihat bagus, tapi pada pergerakan yang terasa kaku dan minim aksi dinamis. Banyak adegan penuh dialog yang menggunakan frame diam terlalu lama. Penonton mulai khawatir bahwa ketika adegan pertarungan besar tiba, hasilnya akan kurang memuaskan. Setelah enam tahun menunggu, tentu harapan para fans sangat tinggi.

Beberapa penonton masih mencoba optimis dan berharap studio menyimpan anggaran besar untuk animasi pertarungan di episode-episode berikutnya. Namun tidak sedikit juga yang merasa kecewa karena dengan waktu produksi selama itu, hasil akhirnya seharusnya bisa jauh lebih halus dan spektakuler.

Meski begitu, One Punch Man tetap punya potensi untuk memperbaiki diri di sisa musimnya. Jika kualitas animasinya meningkat di pertarungan besar nanti, mungkin serial ini masih bisa menebus rasa kecewa awal para penggemar. Namun untuk sekarang, musim ketiganya masih menjadi contoh betapa ekspektasi tinggi bisa berbalik jadi beban berat bagi sebuah anime besar.

Exit mobile version