Channing Tatum akhirnya angkat bicara soal nasib kelanjutan film komedi aksi Jump Street, dan sayangnya kabar yang dibawanya tidak terlalu menggembirakan. Dalam wawancara terbarunya, sang aktor mengaku pesimis bahwa 23 Jump Street akan benar-benar diproduksi, meskipun naskah untuk film ketiganya sudah lama disiapkan dan disebut-sebut sangat menjanjikan.

“Saya tidak yakin film itu akan pernah terjadi,” ujar Tatum. “Masalah utamanya ada pada biaya. Biaya produksinya akan sama besar, bahkan mungkin lebih besar dari anggaran film itu sendiri, karena terlalu banyak produser yang terlibat. Proyek ini jadi terlalu berat di atas kertas dan selalu gagal setiap kali mencoba dijalankan.”

Tatum menjelaskan bahwa baik dirinya, Jonah Hill, maupun duo sutradara Phil Lord dan Chris Miller sebenarnya telah bersedia menerima bayaran yang lebih kecil demi mewujudkan film ketiga ini. Namun, biaya yang diminta oleh produser Neal H. Moritz disebut menjadi batu sandungan terbesar. “Harga yang diminta Neal untuk biaya produser sangat tinggi,” tambahnya. “Dan terus terang, itu yang membunuh proyek ini.”

Jump Street sendiri merupakan salah satu waralaba komedi paling sukses pada dekade 2010-an. Film pertamanya, 21 Jump Street (2012), berhasil menghidupkan kembali serial klasik tahun 1980-an dengan pendekatan segar dan humor khas Lord & Miller. Film ini disusul dua tahun kemudian oleh 22 Jump Street (2014), yang tidak hanya mempertahankan kualitasnya, tetapi juga memperkuat posisi Tatum dan Hill sebagai duo komedi yang solid di layar lebar.

Kedua film tersebut mendapat sambutan luar biasa dari penonton maupun kritikus, dengan skor 85 persen untuk 21 Jump Street dan 84 persen untuk 22 Jump Street di Rotten Tomatoes. Secara global, keduanya meraih pendapatan lebih dari 534 juta dolar Amerika. 21 Jump Street bahkan dianggap sebagai salah satu film komedi sekolah menengah paling sukses sepanjang masa.

Mengingat pencapaian tersebut, wajar jika penggemar masih menantikan kelanjutan kisah Jenko dan Schmidt. Tatum pun mengakui bahwa permintaan untuk Jump Street 3 tidak pernah berhenti datang. “Saya mendapat lebih banyak pertanyaan tentang Jump Street 3 dibanding film lain yang pernah saya bintangi,” ungkapnya sambil tertawa.

Sayangnya, perbedaan pandangan finansial tampaknya menjadi penghalang terbesar. Neal H. Moritz, produser yang dikenal lewat The Fast and the Furious, The Boys, dan I Know What You Did Last Summer, disebut memiliki bayaran yang terlalu tinggi untuk menyeimbangkan struktur produksi film yang berbasis pada komedi dan aksi ringan seperti Jump Street.

Meskipun demikian, Tatum masih menyimpan rasa sayang terhadap proyek ini dan mengaku naskah film ketiga adalah salah satu yang terbaik yang pernah ia baca sepanjang kariernya. “Sangat disayangkan, karena skripnya benar-benar luar biasa,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini, peluang untuk melihat 23 Jump Street di masa depan tampak semakin kecil. Namun, dalam dunia Hollywood yang penuh kejutan, bukan tidak mungkin proyek ini suatu hari nanti menemukan jalan untuk kembali hidup, terutama jika para pihak yang terlibat berhasil menemukan kesepakatan yang adil. Untuk saat ini, para penggemar tampaknya harus puas dengan dua film yang sudah menjadi klasik modern dalam genre aksi-komedi tersebut.