Dari sekian banyak waralaba film Hollywood, James Bond adalah salah satunya yang paling populer di kalangan penggemar film bergenre mata-mata. Diadaptasi dari berbagai novel klasik berjudul sama karya Ian Fleming dan novelis lain, sejauh ini waralabanya telah mempunyai total 25 film utama, mulai dari Dr. No yang dirilis pada awal tahun 60-an, sampai berbagai film terbarunya yang dibintangi oleh Daniel Craig, seperti Casino Royale, Quantum of Solace, Skyfall, Spectre, dan No Time To Die yang baru dirilis pada tahun lalu.

Disutradarai oleh Cary Joji Fukunaga, film No Time To Die sendiri dimeriahkan oleh para aktor ternama, seperti Craig, Léa Seydoux, Jeffrey Wright, Christoph Waltz, Ralph Fiennes, Lashana Lynch, Ana de Armas, dan Rami Malek. Film yang mengakhiri petualangan James Bond versi Craig ini telah mendapatkan banyak sekali respons positif dan juga pendapatan yang mencapai 11,2 triliun rupiah dari seluruh dunia, menjadikannya film tersukses keempat pada tahun 2021.

Sebelum diambil alih oleh sutradara Joji Fukunaga, tadinya film James Bond ke-25 tersebut akan disutradarai oleh Danny Boyle. Dan sekarang, dalam sebuah sesi wawancara terbarunya dengan Indie WireBoyle mengungkapkan bahwa dia bersama penulis John Hodge sebenarnya sempat menulis naskah No Time To Die, di mana peristiwa filmnya akan lebih banyak terjadi di Rusia dan dimaksudkan untuk mengungkap asal-usul Bond yang sebenarnya.

“Anehnya, kisahnya akan sangat penting sekarang, karena semuanya berlangsung di Rusia, tempat asal Bond saat Perang Dingin terjadi,” ungkap Boyle. “Berlangsung pada masa sekarang di Rusia dan membahas asal-usul Bond yang sebenarnya. Sayangnya, mereka (studio) melewatkan itu, mereka kehilangan kepercayaan kepada ceritanya. Sangat disayangkan sekali.”

Berdasarkan pernyataan terbaru Boyle ini, mungkin alasan dibalik Eon Productions dan Universal Pictures menolak naskahnya adalah karena mereka ingin kisah terakhir Bond lebih banyak mengekplorasi lokasi yang sebelumnya tidak pernah diceritakan. Adegan final No Time To Die sendiri terjadi di sebuah bekas markas Perang Dunia II yang berlokasi di Trøllanes, Kepulauan Faroe yang berdekatan dengan Jepang, di mana lokasi tersebut dianggap sebagai salah satu faktor menarik dari filmnya.