Sejak Marvel pertama kali memperkenalkan konsep dewa di universenya, sudah tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah salah satu ras terkuat yang ada di Marvel Universe. Dengan fisik dan kekuatan yang lebih superior dari manusia biasa, mereka sering dianggap sebagai sosok harapan yang layak untuk disembah, seperti dewa Nordik dari Asgardian, dewa Mesir dari Heliopolis, dewa Yunani dari Olympus, dan masih banyak lagi. Namun, hal tersebut ternyata sama sekali tidak berlaku bagi Gorr the God Butcher, yang memprakarsai pembantaian dewa terparah di sepanjang sejarah Marvel.

Kisah mengerikan tersebut bahkan sudah diceritakan sejak kemunculan pertama Gorr di komik Thor: God of Thunder (2013) karya Jason Aaron dan Esad Ribić, di mana dia hampir membuat para dewa mengalami kepunahan massal di Marvel Universe. Peristiwa pembantaian dewa ini sendiri cukup sering membuat para penggemar bertanya-tanya, “bagaimana dewa di Marvel Universe yang katanya sangat sakti bisa mengalami nasib buruk tersebut?” Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita bahas terlebih dahulu siapa sebenarnya Gorr dan apa yang memotivasi dirinya sampai sebrutal itu!

Dari Penyembah Jadi Pembenci Dewa

Gorr awalnya adalah sesosok alien biasa yang berasal dari sebuah planet tanpa nama. Sejak dirinya masih kecil, dia diajari untuk percaya dan menjadikan para dewa sebagai sumber pengharapan ketika berdoa, apa pun yang terjadi. Sayangnya, para dewa sendiri sama sekali tidak pernah mendengarkan doa Gorr, karena seperti yang kita tahu, pada kenyataannya sebagian besar dewa di Marvel Universe mempunyai kehidupan dan urusannya masing-masing sehingga mereka cenderung tidak ada waktu untuk menjawab doa dari orang-orang yang menyembahnya.

Dan ketika satu per satu orang terkasihnya tewas, dari mulai orang tua dan anak-anaknya yang mati mengenaskan karena kelaparan, kemudian istrinya yang tengah hamil malah tewas karena bencana alam, Gorr akhirnya meyimpulkan bahwa selama ini dia telah menyembah sosok yang sama sekali tidak nyata dan memutuskan untuk berhenti memercayai dewa. Namun, tidak lama setelah itu, Gorr jutsru melihat sebuah pertarungan dewa antara elder god Knull dan dewa berarmor emas.

Terkejut dengan fakta bahwa selama ini dewa benar-benar ada, Gorr makin marah setelah melihat dewa emas yang ditinggalkan sekarat oleh Knull beteriak minta tolong. Ketika Gorr mendekat, dia melihat sebuah pedang hitam menancap di tubuh dewa emas tersebut. Kemudian pedang yang disebut All-Black the Necrosword tersebut berubah menjadi bayangan kegelapan dan bersatu dengannya. Pada titik inilah Gorr mendapatkan kekuatan symbiote dan juga kekuatan fisik super, serta menjadikan dewa berarmor emas yang tengah sekarat sebagai pelampiasan rasa benci dan marahnya kepada para dewa.

Bersumpah Akan Membasmi Para Dewa

Setelah membunuh dewa berarmor emas tersebut, Gorr bersumpah bahwa dia akan membasmi semua dewa di Marvel Universe karena tidak pernah menjawab doa-doanya. Dengan dendam yang bahkan masih berapi-api setelah ribuan tahun berlalu, Gorr berkeliling galaksi untuk memburu dan membunuh para dewa yang ditemuinya. Dalam prosesnya dia berhasil membunuh banyak sekali dewa yang terkenal di berbagai mitologi manusia maupun para dewa yang tidak mempunyai nama. Sampai akhirnya dia tiba di Bumi pada abad ke-9 dan bertemu dengan Thor yang tengah bersama para Viking.

Pertemuan bersejarah ini terjadi setelah Gorr membasmi para dewa Slavia dari mitologi Rusia yang tadinya akan berperang dengan Thor dan bangsa Viking. Tanpa basa-basi Gorr langsung menyerang Thor dan hampir membunuhnya, tetapi karena pada saat itu dia dibantu oleh para Viking tangguh, Thor akhirnya berhasil melancarkan serangan pamungkas yang memutus tangan kanan Gorr. Thor yang percaya bahwa dia telah menang, justru malah membiarkan Gorr tumbuh makin kuat selama ribuan tahun berikutnya, di mana dia mengembangkan pasukan symbiote yang disebut Black Berserker.

Banyak Dewa Berguguran

Selama masa pemulihan dan penghimpunan kekuatan tersebut, Gorr bahkan membunuh lebih banyak lagi dewa, termasuk menyerang planet rahasia Chronux dan membunuh para Dewa Waktu, kemudian menggunakan darah mereka dan juga Pool of Forever untuk kembali ke masa-masa awal alam semesta di mana dia berhasil membunuh elder god pertama. Dengan Pool of Forever yang berada dalam kekuasaannya, Gorr melakukan penjelajahan waktu untuk menangkap All Father Thor dari masa depan, Thor muda dari abad ke-9, dan juga Thor versi utama, sambil menciptakan sebuah Godbomb.

Godbomb sendiri adalah sebuah bom yang bisa diletakan di timestream dan akan mebunuh semua dewa di semua timeline. Syukurnya, sebelum Gorr menjalankan rencana gilanya tersebut, tiga varian Thor yang ditangkap olehnya memutuskan untuk bekerja sama demi mengalahkan alien berkekuatan Necrosword tersebut. Dengan bantuan ‘doa’ dari para dewa diseluruh timeline yang sudah mengetahui batapa mematikannya Gorr, Thor akhirnya mampu menyerap ledakan Godbomb dan Necrosword, melemahkan Gorr dan kali ini benar-benar membunuhnya.

Pada titik inilah petulangan brutal Gorr untuk membantai para dewa yang sangat dibencinya berakhir. Mirisnya, menjelang akhir hidupnya, Gorr justru mendapatkan julukan sebagai sang ‘God of Hypocrisy’ alias Dewa Kemunafikan di Marvel Universe, membuatnya mati sebagai sosok yang sangat dibencinya. Itulah pembahasan tentang peristiwa pembantaian dewa Marvel oleh Gorr the God Butcher, yang sebentar lagi kisahnya akan diadaptasi oleh film solo Thor keempat di MCU. Kita nantikan saja aksi brutal Gorr versi live action ini di film Thor: Love and Thunder yang akan dirilis pada 8 Juli 2022.