Dalam chapter 1037 di seri manga One Piece kemarin, kita melihat para Gorosei sedang mengadakan diskusi tentang pertempuran yang sedang terjadi di Wano. Para Gorosei sepertinya memang sengaja mengirimkan pasukan CP-0 lainnya ke Wano, seperti diperlihatkan di chapter 1028 kemarin, untuk menyelesaikan misi utama mereka yaitu mengambil alih kekuasaan Wano dan menangkap Nico Robin.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari diskusi para Gorosei tersebut. Pertama, mereka beranggapan bahwa Nico Robin sudah berhasil ditangkap. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka tidak mendapatkan informasi mengenai apa yang terjadi di Wano secara langsung. Mereka hanya mendapatkan informasi sedikit demi sedikit mengenai perkembangan situasinya.

Mereka tidak tahu bahwa Robin belum berhasil ditangkap, dan mereka juga tidak tahu bahwa ada sosok Zunesha muncul di hadapan armada CP-0. Kedua, terdapat teori bahwa yang Gorosei maksud dalam percakapan tentang “kesempatan yang baik untuk tewas/menghilang” bukanlah Kaido dan Big Mom atau Yonko atau bajak laut, melainkan pewaris sah dari kepemimpinan Wano, Momonosuke.

Para Gorosei sepertinya ingin memanfaatkan situasi pertempuran di Onigashima tersebut sebagai cara untuk menghabisi nyawa Momonosuke. Dengan begitu, pihak Pemerintah Dunia akan mengambil alih kekuasaan wilayah Wano tanpa terlihat seperti pihak yang jahat, yang mengambil paksa wilayah tersebut. Seluruh dunia akan melihat peristiwa tersebut sebagai sebuah “kecelakaan.”

Ketiga, dari laporan yang ada mereka mendapatkan informasi tentang kembalinya para samurai yang berasal dari “masa lalu” atau sebelum perang di Onigashima dimulai. Orochi mengonfirmasi hal tersebut kepada CP-0 dengan mengatakan bahwa Kanjuro merupakan mata-matanya dan intelijen yang dia terima kembali muncul dalam 20 tahun kedepan (saat ini). Artinya Momonosuke akan menjadi penerus sah dari penguasa di wilayah Wano.

Mereka pun berbicara tentang buah iblis legendaris yang sudah sejak lama ada, namun belum pernah dibangkitkan kekuatannya. Bisa jadi buah iblis yang mereka maksud adalah Toki Toki no Mi. Seperti yang kita ketahui, Toki sempat melakukan perjalanan waktu ke masa depan, di mana dia kemudian bertemu dengan Oden dan membentuk keluarganya sendiri.

Toki berasal dari 800 tahun yang lalu, atau saat abad yang hilang. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh para Gorosei, tentang “menghilangnya” buah iblis tersebut selama ratusan tahun. Saat Toki bertemu dengan Oden – sampai dia menghilang – Toki tidak pernah lagi menggunakan kekuatannya. Sehingga wajar jika kemudian Gorosei tidak tahu keberadaan buah iblis tersebut.

Yang juga menarik adalah bagaimana nama buah iblisnya sama dengan nama pemiliknya, yang mana “Toki” dalam bahasa Jepang berarti waktu. Sampai sejauh ini, baru Toki yang memiliki nama mirip dengan nama buah iblisnya. Artinya ada kemungkinan Toki atau Oda yang berbohong tentang nama buah iblisnya, atau nama dari karakternya. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk membuat semua orang bingung.

Mungkin nama asli dari buah Toki berkaitan dengan sejarah, yaitu Rekishi Rekishi no Mi. Hal ini dikarenakan kemampuan buah iblisnya yang tidak bisa kembali ke masa lalu – padahal buah iblisnya berkaitan dengan waktu. Ketika kekuatan buah iblisnya dibangkitkan, penggunanya bisa menghapus masa lalu dari ingatan semua orang, mirip seperti Memo Memo no Mi milik Pudding.

Bisa jadi itulah cara “dibuatnya” abad yang hilang. Apakah Toki mendapatkan buah iblis tersebut setelah pemilik sebelumnya tewas, atau mungkin dialah yang membuat semua itu terjadi. Menarik tentunya jika kemudian spekulasi ini terbukti, yang mana artinya Toki bukanlah sosok sembarangan. Sampai saat ini, kita masih belum tahu pasti ke mana Toki pergi. Apakah dia tewas? Atau pergi ke masa sekarang?

Banyak fans sendiri yang meyakini bahwa Toki sebenarnya belum tewas. Apa yang terjadi pada saat momen terakhirnya, sebenarnya Toki mengirim dirinya sendiri ke masa yang akan datang. Untuk saat ini semua memang masih menjadi misteri. Kita nantikan saja kelanjutan ceritanya pada chapter yang akan datang.