Dalam serial Shadow and Bone, penduduk Fjerda sangat membenci dan memburu Grisha. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka membenci Grisha? Dunia Shadow and Bone memang sangat luas dan beragam. Dalam ceritanya, terdapat beragam negara dan budaya yang unik, yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Namun dari semua negara itu, hanya sedikit yang baik hati kepada Grisha. Dari semua negara, hanya Ravka yang menghargai hak hidup Grisha.

Di Ravka, para penduduk memanfaatkan kekuatan Grisha untuk mempertahankan kerajaan, membuat persenjataan, dan melawan musuh mereka. Hubungan antara Grisha dan manusia biasa di Ravka (yang dikenal sebagai Otkazat’sya), mungkin sedikit bersitegang, tetapi setidaknya Grisha masih bisa hidup layak tanpa dianiaya. Hal tersebut berbeda di negara lainnya. Misalnya di Wandering, orang-orang memandang darah Grisha sebagai sihir yang dapat menyembuhkan penyakit, sehingga biasanya darah Grisha disedot hingga darah.

Sementara itu di Shu Han yakin bahwa jika Grisha dibedah, para ilmuwannya akan menemukan sumber kekuatan Grisha, dan dengan demikian, Grisha di sana digunakan sebagai bahan eksperimen ilmiah, pembedahan, dan bahkan mutilasi. Diantara yang lain, Fjerda sepertinya menjadi yang paling kejam karena mereka memiliki sebuah pasukan bernama Druskelle yang sangat menakutkan. Druskelle adalah pasukan pemburu Grisha dari Fjerda, dan mereka adalah pasukan elit suci yang terlatih dalam melacak dan mendeteksi sihir Grisha.

Seperti yang disebutkan di atas, misi utama Druskelle adalah untuk mengumpulkan setiap Grisha yang mereka temukan untuk diantarkan ke Ice Court, ibu kota Fjerda, untuk diadili. Di sana, walau Grisha tidak bersalah, namun Grisha dipastikan akan berakhir dengan dieksekusi. Semangat para Druskelle memang sangat besar sehingga mereka bahkan menyusup dan melintasi perbatasan negara lain untuk memburu Grisha, dan hal itu dibenarkan oleh keyakinan mereka. Semangat dan kebencian Fjerda terhadap Grisha berasal dari sifat religius mereka.

Fjerda adalah negara yang sangat konservatif. Di Fjerda, laki-laki berkelahi dan bekerja, sementara perempuan harus menjadi lembut dan pendiam, dan tidak boleh bekerja dan berkelahi. Sementara itu di Ravka, pria dan wanita berlatih bersama satu sama lain, baik Otkazat’sya dan Grisha pun menjalankan aktivitas mereka secara normal. Apa yang dilakukan oleh para penduduk Ravka menyinggung keyakinan Fjerda. Namun ada satu hal yang paling menyinggung keyakinan Fjerdan yaitu fakta bahwa di Ravka semua Grisha diizinkan untuk hidup dengan damai dan kekuatan mereka dapat digunakan dengan bebas.

Bagi para penduduk Fjerda yang taat dengan agama, Grisha dianggap sebagai penyihir jahat yang sewaktu-waktu akan menggunakan kekuatannya untuk merusak alam dan mempengaruhi pikiran manusia. Para penduduk Fjerda sendiri adalah pemuja dewa Djel, yaitu dewa alam. Karena itu, penduduk Fjerdans sangat menghormati alam dan menganggap siapapun yang merusaknya adalah penjahat. Oleh karena itulah mereka membenci Grisha.

Namun, Fjerda sebenarnya salah paham tentang sumber kekuatan Grisha. Bagi penduduk Fjerda, kekuatan Grisha dianggap seperti sihir dan itu dianggap bentuk penghinaan terhadap keyakinan mereka. Tetapi sebenarnya apa yang digunakan oleh Grisha bukanlah sihir melainkan ilmu pengetahuan. Kekuatan Grisha terikat dengan kemampuan mereka untuk memanipulasi dan mengendalikan materi pada tingkat fundamental terkecil, dan bukan sihir tapi adalah sains dalam skala kecil.

Avatar
Restu is a general trouble maker of Greenscene.co.id, he's operate on movie review and original content with some reporting job. He think that he is Tony Stark, with semi-bald head.