Diana Prince alias Wonder Woman pertama kali muncul dalam DC Extended Universe (DCEU) di film Batman v Superman: Dawn of Justice (2016). Kemunculan pertamanya itu membawanya pada film solo pertama Wonder Woman di tahun 2017. Meski berlatar selama Perang Dunia 1, dan jauh dari kejadian di film Batman v Superman, namun film debutnya itu sekilas memperlihatkan kepribadiaan yang dimiliki oleh Diana dengan alter egonya tersebut.

Baru-baru ini, Diana hadir kembali lewat film keduanya yang berjudul Wonder Woman 1984 (WW84). Sejak pengalamannya di film pertama, WW84, Batman v Superman, hingga bergabung dengan Justice League, beberapa aspek kepribadiannya telah berubah karena Wonder Woman menjadi orang yang lebih baik, dan bijak baik dalam banyak hal. Segala kenangan, dan peristiwa yang dialaminya, baik di masa lalu, dan masa sekarang, membuatnya terlihat sebagai sosok setengah Dewa yang humanis. Inillah beberapa perubahan yang terjadi dengan sosok Wonder Woman dalam DCEU.

Lebih Bersukarela Untuk Membantu Orang-Orang

Wonder Woman sempat memilih untuk tidak membantu siapa pun untuk waktu yang cukup lama. Hal ini ia lakukan karena kekecewaannya selama terlibat dalam Perang Dunia 1 bersama Steve Trevor. Diana telah melihat cukup banyak bagaimana orang-orang bisa berubah jahat untuk tujuan tertentu. Dia lalu mengatasi sikap apatisnya itu setelah menyaksikan pengorbanan Superman, yang menyebabkan Wonder Woman melakukan introspeksi pada dirinya sendiri. Dengan peristiwa Justice League, dia mulai mencari tempat di mana dia bisa menggunakan kekuatannya untuk membantu.

ADVERTISING
amp-fx-flying-carpet height="300px">
ADVERTISING

Mengambil Kepemimpinan

Alur cerita potensial untuk sekuel Justice League adalah menyaksikan Wonder Woman tumbuh sebagai pemimpin. Ini muncul di film pertama, di mana dia mengubah pandangannya tentang bersolo karier dan bersiap untuk menjadi pemimpin. Ini adalah hasil dari pemahaman Wonder Woman bahwa Batman ingin dia mengambil peran ini karena dia telah membentuk koneksi dengan setiap anggota Justice League, dan cocok untuk seorang pemimpin. Akhirnya, Wonder Woman sendiri melihatnya seperti ini dan memimpin yang lain untuk menyelamatkan Batman dan melawan Steppenwolf.

Menerima Kematian Steve Trevor

Tidak diragukan lagi bahwa Diana dan Steve adalah pasangan DC terbaik, membuatnya dapat dimengerti mengapa Diana merasa begitu sulit untuk melupakan kematiannya. Di WW 84, Steve dinyatakan hidup kembali lewat raga seseorang, tapi Diana pada akhirnya telah ikhlas memupus harapannya itu, dan membiarkan kekasihnya itu untuk pergi. Meski ia telah tiada, Diana semakin menyadari bahwa ingatan Steve selalu hidup dalam dirinya.

Merangkul Sifat Heroiknya

Wonder Woman tidak hanya enggan membantu orang lain, dia juga tidak ingin dikenal sebagai sosok yang heroik sama sekali. Bahkan, setelah dia membantu Batman dan Superman melawan Doomsday, Wonder Woman tidak mau menjadi pahlawan. Setelah melawan Steppenwolf, dan membentuk Justice League, Wonder Woman akhirnya sadar bahwa dirinya adalah seorang superhero. Dia memahami bahwa membantu orang saja tidaklah cukup dan bahwa dia perlu menjadi simbol pemberdayaan yang akan menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik.

Berani Mengingat Masa Lalu

Setelah kematian Steve Trevor, Wonder Woman mundur dari mata publik sedemikian rupa sehingga dia pada akhirnya tidak siap untuk kembali ke medan pertempuran lagi. Saat dia bertemu dengan Bruce Wayne, dia mulai mengubah pola pikirnya. Penerimaannya atas masa lalu juga membuatnya menjadi persiapan untuk melawan Steppenwolf yang pernah menginvasi Amazon.

BERSAMBUNG KE HALAMAN 2

1
2