Pada Chapter 16: The Rescue di serial The Mandalorian Season 2, Boba Fett bertemu langsung dengan Bo-Katan, dan tentu saja, pertemuan itu kurang bersahabat bagi mereka. Bo-Katan menolak Boba karena telah memalukan nama baik Mandalorian. Ia juga tidak mengakui Jango Fett sebagai ayah dari Boba, dan meremehkannya karena menjadi Klon. Rekan Bo-Katan yang bersamanya, Koska Reeves, kemudian menyerang Boba dan perkelahian keduanya tidak bisa dihindarkan sebelum akhirnya Bo-Katan menghentikan mereka. Ketiganya merupakan Mandalorian, tapi nampaknya, Bo-Katan dan Koska Reeves sangat tidak menyukai Boba, dan membenci Jango Fett.

Alasan sebenarnya kenapa para Mandalorian membenci Jango Fett telah banyak diungkap di berbagai macam properti Star Wars, seperti Star Wars: The Clone Wars, Star Wars Rebels, hingga backstory Jango Fett yang dikanonisasi ulang di Star Wars Legends.

Dalam Star Wars Legends, Jango Fett dan keluarganya terperangkap di tengah-tengah Perang Saudara Mandalorian, antara Mandalorian sejati dan kelompok pembunuh yang disebut Death Watch. Setelah Death Watch membunuh orang tua Jango saat ia berusia 10 tahun, Jango lalu bergabung dengan Jaster Mereel dan menjadi Mandalorian sejati. Ia kemudian membantu mengalahkan Death Watch, dan akhirnya menjadi Mandalore (pemimpin Mandalorian). Dalam The Mandalorian season 2, episode 6, “Chapter 14: The Tragedy,” garis besar dari backstory ini kembali ke kanon seperti yang diungkapkan oleh Boba Fett saat merebut kembali baju besinya.

Jango juga merupakan template untuk Tentara Klon Republik, yang Pasukan Klonnya termasuk di antara prajurit terbesar di galaksi. The Death Watch berada pada posisi netral saat terjadinya Perang Klon, tetapi secara singkat bersekutu dengan Aliansi Separatis sebelum dikhianati oleh Count Dooku, seperti yang terlihat di The Clone Wars. Pasukan Klon memiliki sedikit interaksi dengan Mandalorian setelah era Perang Klon. Di hari-hari terakhir perang, satu detasemen Pasukan Klon membantu perlawanan Mandalorian Bo-Katan melawan mantan loyalis Mandalorian, Sith Lord Maul.

Sayangnya, tujuan sebenarnya dari klon tersebut adalah untuk memulai Pembersihan Jedi, dan mengantarkan Kekaisaran Galaksi semakin lebih fasis. Meskipun awalnya orang baik, para Klon dipaksa melalui implan otak untuk membunuh teman Jedi mereka, dan memfasilitasi kudeta. Walaupun Kekaisaran dengan cepat mengganti Klon dengan Stormtrooper, Klon tersebut secara sadar enggan berperan dalam kebangkitan Kekaisaran, yang kemudian langsung menduduki Mandalore, merampas perlawanan Bo-Katan. Seperti yang terlihat di Star Wars Rebels, Kekaisaran tidak menghormati budaya Mandalorian, dan mereka menggunakan senjata super dengan menargetkan baju besi beskar suci agar prajurit Mandalorian bisa ditaklukan.

Bo-Katan dan prajuritnya, Nite Owls, adalah bagian dari Death Watch, dan karena itu mereka bertarung melawan faksi Jango Fett dari Mandalorian sejati selama Perang Sipil. Jango secara populer diyakini sebagai bounty hunter yang menggunakan perlengkapan Mandalorian, dan penampilannya itu menghina para Mandalorian lainnya, termasuk Bo-Katan. Kalah dalam Perang Saudara Mandalorian, dan gagal mengalahkan Klon Jango di Draay 2 mungkin membuat Bo-Katan semakin membenci mereka. Tak satu pun dari Klon, termasuk Boba, mengikuti kepercayaan Mandalorian, namun mereka secara teratur bisa mengalahkan prajurit Mandalorian yang lain.

Meskipun Pasukan Klon tak terlibat langsung selama Pengepungan Mandalore, mereka juga membuka jalan bagi penindasan Kekaisaran untuk mengambil alih Mandalore, dan secara tidak langsung menyingkirkan kekuasaan Bo-Katan dengan Darksabernya. Karena itu, setiap Mandalorian, Death Watch atau lainnya, kemungkinan akan menyimpan ketidakpercayaan dan kebencian yang lebih buruk pada Klon Jango. Jika bukan karena klon, Bo-Katan tidak akan tetap berjuang untuk memenangkan kembali Darksaber di The Mandalorian.