[wp-review id=”81198″]

Setelah berkali-kali diundur karena berbagai alasan, kali ini film Wonder Woman 1984 resmi dirilis. Film tersebut memperlihatkan kembalinya Diana Prince (Gal Gadot) dan kekasihnya, Steve Trevor (Chris Pine). Selain mereka berdua, Wonder Woman 1984 juga menghadirkan beberapa karakter baru, seperti Barbara Minerva (Kristen Wiig) dan Maxwell Lord (Pedro Pascal). Menariknya, kedua karakter baru itu sama-sama menjadi villain dalam film ini.

Dalam sekuel Wonder Woman ini, sutradara Patty Jenkis kembali hadir mengarahkan filmnya. Jenkins tak hanya menyutradarai karena ia juga turut menggarap naskahnya, bersama dengan Geoff Johns dan Dave Callaham. Film Wonder Woman 1984 sendiri melanjutkan film pertamanya, di mana kali ini Diana melanjutkan kehidupannya di Washington DC dengan tenang. Suatu ketika, Diana bertemu dengan Barbara Minerva, sosok canggung dan pemalu, yang menjadi rekan kerjanya di sebuah museum.

Suatu ketika, mereka berdua ditugasi untuk menyelidiki beberapa artefak bersejarah. Tapi ternyata ada salah satu artefak yang dapat mengambulkan keinginan orang-orang yang bersentuhan denganya. Dari situlah, berbagai masalah mulai muncul, yang membuat Wonder Woman harus turun tangan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran sekali lagi.

Kurang Detail

Dari segi cerita, tampaknya Jenkins kurang bisa memberikan detail-detail penting tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kesannya, Wonder Woman 1984 terasa terburu-buru, padahal sebenarnya, alur ceritanya cukup lambat. Tapi walau begitu, filmnya mampu menghadirkan dinamika yang menarik antara Diana dan Steve Tervor, seperti yang terjadi pada film pertama. Juga, filmnya mampu menyajikan adegan aksi yang seru, terutama saat Diana mengenakan armor barunya.

Kehadiran karakter baru seperti Maxwell Lord dan Minerva juga melengkapi cerita dari Wonder Woman 1984. Kedua karakter tersebut diceritakan asal-usulnya, dan mereka berhasil menonjolkan sisi lain dari rasa kemanusiaan. Diana tentu saja menjadi karakter yang sangat bersinar dalam film ini. Jika dalam film pertama lebih menceritakan tentang asal-usul Diana, film keduanya malah menceritakan saat Diana telah matang sebagai superhero, namun rapuh di dalam. Itulah yang coba di perlihatkan oleh Jenkins, di mana kekuatan fisik bukanlah segalanya bagi seorang superhero.

Gal Gadot: Outstanding!

Disamping itu, penampilan Gal Gadot dalam film Wonder Woman 1984 cukup mengesankan. Gal Gadot sukses menghadirkan sosok Diana yang jauh lebih matang dari sebelumnya. Terlihat bahwa Diana lebih tangguh dan kuat dengan kostum barunya. Sisi emosional dari Diana juga ditonjolkan dalam filmnya, dan Gal Gadot mampu menangani itu semua. Untuk Kristen Wiig, sayangnya ia tampil tidak terlalu banyak, dan karakternya, Cheetah, seolah-olah kalah penting dengan karakter Maxwell Lord yang diperankan Pedro Pascal.

Memang menghadirkan dua villain dalam satu film bukanlah perkara mudah, tetapi Cheetah seperti tersingkirkan oleh Maxwell Lord, padahal Cheetah juga memiliki peranan penting dalam terbentuknya sosok Maxwell Lord. Untuk Pedro Pascal sendiri, ia cukup bisa untuk memerankan sosok villain yang haus akan kekuasaan dan kekayaan. Tapi di beberapa bagian filmnya, karakter Maxwell Lord tampil tidak konsisten, dan malah membuat kita menaruh simpati pada karakternya. Kehadiran Pine sebagai Trevor sukses membawa banyak humor dalam cerita.

Film Wonder Woman 1984 sendiri mengambil latar waktu tahun 1984, sesuai dengan judul filmnya. Patty jenkins berhasil membawa nuansa tahun 1984 ke dalam filmnya. Mobil-mobil klasik, pesawat, dan nuansa bangunan tahun 80an sukses memberikan kesan nyata bahwa filmnya mengambil tahun serupa. Selain itu kostum yang digunakan setiap karakter juga membantu menguatkan tema 80an. Jika dilihat, filmnya mirip seperti Stranger Things, di mana menghadirkan nuansa 80an yang kental.

Dengan tangan dingin Hans Zimmer, musik dari film Wonder Woman 1984 terasa begitu mengalir. Musiknya terasa pas dan tak terkesan berlebihan. Beberapa kali, Zimmer memberikan sentuhan-setuhan musik klasik dalam filmnya yang membuat nuansa tahun 80an menjadi sangat kental.

Restu is a general trouble maker of Greenscene.co.id, he's operate on movie review and original content with some reporting job. He think that he is Tony Stark, with semi-bald head.