Ada dua versi live action Godzilla yang sekarang muncul di dunia. Pertama adalah versi Toho (versi Jepang), sementara satunya lagi versi MonsterVerse (versi Barat), yang dibuat oleh Legendary dan Warner Bros. Film terakhir yang ditayangkan oleh Toho adalah Shin Godzilla yang rilis tahun 2016 lalu, sementara film terakhir MonsterVerse adalah Godzilla: King of the Monsters. Diantara Toho dan MonsterVerse, sepertinya MonsterVerse telah menangani film Godzilla lebih baik daripada Toho lewat film Shin Godzilla.

Film Shin Godzilla sebenarnya bergeser dari formula standar film Godzilla yang kerap dibuat oleh Toho. Alih-alih membela Jepang dari monster lain, musuh utama Godzilla dalam film tersebut adalah manusia itu sendiri. Setelah tiba di darat, serangan destruktif Godzilla memaksa pemerintah Jepang berusaha keras untuk mengalahkannya. Selama film berlangsung, Godzilla mengalami banyak evolusi dan menyebabkan banyak masalah bagi tokoh utama manusia di film tersebut. Walaupun demikian, Godzilla dikalahkan di akhir film. Setelah film Shin Godzilla, Toho lalu menyatakan minatnya secara serius untuk membawa film Godzilla berikutnya ke arah yang berbeda.

Sebagai film Godzilla terbaru dari Toho, film Shin Godzilla tentu membuat penggemar membandingkannya dengan apa yang telah dilakukan oleh Legendary Pictures untuk MonsterVerse. Menariknya, desain Godzilla MonsterVerse lebih akrab bagi penonton daripada versi yang muncul di Shin Godzilla. Setiap pembuat film pasti memiliki pandangannya sendiri tentang bagaimana seharusnya penampilan Godzilla, tetapi kebanyakan berhati-hati agar tidak terlalu berbeda dari penampilan originalnya.

Mungkin salah satu kesalahan terbesar yang dibuat Sony dengan Godzilla tahun 1998 adalah sepenuhnya mengubah tampilan lamanya, dan beralih ke bentuk yang baru. Legendary pun sebenarnya melakukan hal yang sama, namun mereka tetap mempertahankan elemen yang disukai penggemar, mulai dari sirip di punggung Godzilla, nafas atom biru, hingga mungkin ukurannya sendiri lebih diperbesar.

Shin Godzilla menyajikan genre horor dengan segala aspek mengerikan, tapi mungkin sudah terlalu jauh dan berlebihan. Filmnya menampilkan Godzilla yang absurd dengan transformasi yang sangat aneh, dan tidak seperti Godzilla yang selama ini sudah ditampilkan. Masalahnya, kekuatan Godzilla yang diperlihatkan, seperti kemampuan untuk menembakan sinar atom dari ekornya tidak benar-benar cocok untuknya. Sementara itu, Godzilla dari MonsterVerse lebih muncul seperti monster yang persis dalam era Showa, Heise, maupun Milenium.

Memang Shin Godzilla dari Toho berhasil dalam membawa Godzilla kembali ke akarnya di tahun 1954. Tetapi, karena hanya berfokus pada sisi Godzilla ini, film tersebut melewatkan beberapa aspek paling mendasar dari karakternya. Monster yang terlihat di Shin Godzilla terasa agak tidak bernyawa, kurang bersemangat, dan amukannya tidak membuatnya menjadi monster yang mengerikan.

Penggambaran yang dilakukan oleh MonsterVerse secara bersamaan menghormati Godzilla dalam era Showa, ketika Godzilla pada waktu tersebut dipandang sebagai pelindung Jepang, sedangkan film Godzilla 1998, dia dikenal semacam anti-hero yang misterius. MonsterVerse mungkin telah menyesuaikan tujuan dan sejarah Godzilla, tetapi yang terpenting adalah dia masih merasa seperti Godzilla yang sesuai dengan akarnya. MonsterVerse berhasil menangkap semangat, dan kepribadian Godzilla dari semua era dengan cara yang tidak dilakukan oleh film terakhir Toho.