Baik Marvel Studios yang berada di bawah Disney maupun DC Films yang berada di bawah Warner Bros., saat ini menjadi pembawa sesuatu yang baru di era 2020. Setelah sukses dengan Infinity Saga tahun lalu, Marvel langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan langkah selanjutnya. Mereka pun kemudian sudah mempersiapkan berbagai judul baru di Phase 4 mendatang. Tidak lupa juga, mereka sudah mempersiapkan Fantastic Four dan X-Men.

Di sisi lain, jalan berliku harus dihadapi oleh DC Films pasca kesuksesan trilogi Batman dari Christopher Nolan. Namun, mereka pada akhirnya memulai jagat sinematik mereka sendiri. Meskipun sempat mendapatkan banyak tanggapan miring dan kritikan pedas, film-film mereka akhir-akhir ini cukup untuk membayar kesalahan di masa lalu. Lalu, apa yang sebenarnya membedakan multiverse DC dan Marvel?

Multiverse Marvel

Sejak dari awal, Marvel Cinematic Universe sudah mengambil langkah perlahan untuk memperkenalkan karakter-karakter mereka. Empat tahun pertama MCU, berfokus untuk memperkenalkan berbagai karakter melalui stand-alone film. Setelah semuanya diperkenalkan, Marvel kemudian menempatkan mereka dalam satu film yang sama, The Avengers.

Dan selama beberapa tahun kedepan, pasca film The Avengers, berbagai karakter baru mulai bermunculan yang mana hal itu semakin membuat MCU beragam. Semakin banyak juga proyek crossover dan cameo di film-film tersebut. Hal ini terus berlanjut di Phase 3, sampai kemudian semua ceritanya berujung pada dua film puncak yang menghadirkan semua pahlawan MCU.

Kesabaran dan mau untuk bermain dalam jangka panjang merupakan salah satu keuntungan besar dari Marvel Studios. Memperkenalkan semuanya secara perlahan, dapat membantu hype yang dibangun oleh para penonton dan juga memberikan waktu kepada para penonton untuk “mencerna” semua cerita, karakter, dan semua hal yang sudah ditampilkan di franchisenya.

Semua kesabaran dan proses panjang tersebut pada akhirnya berbuah manis. Dan meskipun saat ini MCU mulai lebih sering dalam merilis proyek terbaru, mereka tetap memegang prinsip yang sama tentang memperkenalkan semuanya secara perlahan. Kita tahu bahwa multiverse akan memiliki peran penting di masa depan, khususnya di tahun 2022 mendatang dengan film Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

Series WandaVision juga akan menghadirkan cerita yang masih tersambung dengan cerita di film Doctor Strange 2. Namun, “perkenalan” Marvel terhadap multiverse sudah akan dimulai sebelum Doctor Strange 2, tepatnya di film Spider-Man 3. Hal tersebut berdasarkan fakta bahwa akan muncul sosok Electro, yang diperankan Jamie Foxx, akan muncul di filmnya bersama dengan Doctor Strange.

Marvel sudah mengeksplor tentang perjalanan waktu dan mengungkapkan tentang adanya dimensi alternatif, sehingga di Phase 4 nanti, cerita tentang multiverse bisa dieksplor lebih dalam. Banyak para fans yang khawatir bahwa film Endgame benar-benar akan menjadi akhir bagi MCU, dimana tidak akan ada lagi cerita crossover besar dari para pahlawan Marvel. Apalagi di Phase 4 sendiri tidak ada film Avengers 5.

Tapi, dengan diperkenalkannya multiverse hal ini akan membuat Marvel semakin besar dan semakin berkembang, dengan cerita-cerita yang lebih beragam, apalagi Marvel bisa saja menghadirkan sosok karakter alternatif dari karakter yang sudah ada. Apakah multiverse masih akan membawa MCU di jalur kesuksesan? Masih harus kita nantikan.

Berbagai Universe Alternatif DC

Selama satu dekade terakhir, DC berusaha keras untuk bisa mengejar ketertinggalannya dari Marvel, dalam hal membangun sebuah jagat sinematik. Namun, apa yang dilakukan oleh DC sepertinya berbanding terbalik dari apa yang dilakukan Marvel. Jika Marvel tidak melakukan sebuah crossover besar sampai film keenam, dan setelah mereka memperkenalkan keenam anggota Avengers awal, lain halnya dengan DC.

Pasca merilis Man of Steel, DC langsung muncul dengan gebrakan besar yaitu Batman v Superman: Dawn of Justice. Film ini bukan hanya menjadi film lanjutan dari Man of Steel, melainkan juga menjadi film untuk memperkenalkan Batman dan Wonder Woman. Uniknya, pasca film ini, barulah film solo Wonder Woman muncul. Seharusnya, pola yang digunakan adalah memperkenalkan dahulu Superman, Batman dan Wonder Woman, barulah mereka bertemu di Batman v Superman.

Pola DC untuk menghadirkan film crossover terlebih dahulu baru kemudian film solo, sempat dikritik banyak fans. Hal ini, menurut para fans, adalah langkah yang salah. Para fans berpendapat bahwa DC lebih senang untuk menghadirkan sesuatu yang besar terlebih dahulu, baru kemudian menghadirkan sesuatu yang kecil. Dan sepertinya pola ini memang terbukti salah.

Salah satu contoh nyata adalah kegagalan film Justice League karya Joss Whedon, yang menjadi titik terendah dari DCEU. Film ini benar-benar dianggap sebagai penghancur DCEU oleh banyak orang. Namun, melalui proyek film solo atau stand-alone, DC mulai bangkit. Dimulai dari Wonder Woman, Aquaman, dan Shazam. Banyak yang menganggap bahwa usaha dari DC untuk mengejar Marvel adalah langkah yang salah.

Para fans melihat dari apa yang ada, bahwa DC lebih baik dalam film-film stand-alone mereka yang mana hal ini tidak menjadi fokus utama pihak WB. Jika dibandingkan dengan MCU, memang film-film solo DC jauh lebih menarik dan sukses dibandingkan film solo dari produk MCU. Begitu juga sebaliknya, dimana MCU lebih unggul dalam hal crossover dibandingkan DC.

Jadi, mungkin rasanya masuk akal jika kemudian DC merubah konsep mereka tentang multiverse. Mereka tidak lagi berfokus hanya pada satu produksi film, melainkan dengan membuat banyak proyek film. Contohnya adalah Joker dan The Batman, yang berada di dua universe yang berbeda. Walter Hamada, presiden DC Film, saat DC FanDome kemarin sempat mengatakan bahwa semua film berada di satu multiverse yang sama, DC Universe.

Mungkin inilah jawabannya mengapa dalam event crossover Arrowverse kemarin, kita bisa melihat dua Flash dalam satu frame yang sama, Flash dalam versi TV series dan satu lagi Flash dalam versi DCEU. Jika diperhatikan, sebenarnya konsep multiverse ini sudah lebih dahulu dikembangkan oleh DC. Namun, pihak DC sendiri baru bisa memaksimalkannya sekarang.

Tantangan Antar-Dimensi

Meskipun kedua studio memiliki konsep yang berbeda tentang multiverse, yang mana disesuaikan dengan kebutuhan dan ide dari masing-masing studio, tapi keduanya memiliki potensi kesulitan yang sama. Marvel sudah membuktikan bahwa metode “pelan tapi pasti” miliknya berjalan dengan baik selama satu dekade ini, dan menghadirkan sesuatu yang baru adalah hal yang wajib. Tapi, menambahkan kompleksitas multiverse ke MCU dikhawatirkan akan membuat bingung para penonton.

Hal ini sebenarnya sudah dikhawatirkan sejak dahulu oleh para fans. Konsep multiverse, bagi mereka yang sering membaca komik atau mengenal cerita komik, tentunya tidak akan memiliki masalah apapun. Tapi, untuk mereka para penonton kasual yang mungkin tidak pernah atau belum pernah membaca komiknya, akan merasa kesulitan untuk memahami tentang multiverse.

Masalah lainnya adalah konsep Disney Plus yang terhubung ke MCU. Secara garis besar, ide ini sangat baik dan modern. Tapi, apakah semua para fans Marvel bisa menggunakan layanan Disney Plus? Mereka yang sebelumnya belum menonton series yang terkoneksi dengan salah satu film, mungkin akan kebingungan dengan elemen dalam ceritanya.

Marvel rasanya perlu mencari cara untuk bisa membuat para penonton yang selama ini tidak menonton TV series, hanya film, untuk bisa memahami ceritanya. Dengan kata lain, mungkin ada baiknya jika Marvel tetap berpegang pada konsep di Phase sebelumnya. Akan ada efek domino yang dirasakan jika kemudian konsep tied-in antara series dan layar lebar ini diterapkan.

Tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh DC adalah bagaimana caranya mengatur agar semua multiverse yang ada bisa terasa dalam satu universe yang sama. Tugas besar dan berat dari DC dan Warner Bros adalah tidak membuat kekacauan yang besar. Dengan adanya kebebasan untuk tidak saling terhubung antara satu universe dengan yang lain, memang bisa memberikan kebebasan dalam berkarya.

Dan yang paling penting adalah dengan adanya berbagai proyek film ini, akan membuat semuanya menghadirkan “warna” mereka sendiri. Jikapun kemudian ada kesalahan yang terjadi di sebuah film, maka tidak akan berpengaruh banyak terhadap yang lain. Namun, yang perlu menjadi bahan pertimbangan adalah ketika DC berusaha untuk menempatkan para pahlawan mereka di satu film yang sama. DC perlu dengan matang memikirkan ide dan konsepnya, jika memang mereka ingin menghadirkan beberapa karakter sekaligus dalam satu cerita yang sama.

Kesimpulannya adalah Marvel menggunakan konsep multiverse untuk mengembangkan cerita, dari yang sudah pernah mereka tampilkan dalam satu dekade terakhir. Sedangkan bagi DC, menghadirkan konsep multiverse adalah jalan untuk menghindari keharusan menyatukan mereka dalam satu “wadah” yang sama. Karakter dari DC bisa bergerak bebas sesuai keinginan si pembuatnya, tanpa harus takut mengganggu timeline yang ada.

Tidak peduli bagaimana kita menanggapinya, suka atau tidak, konsep multiverse adalah konsep yang akan digunakan oleh film-film dan TV series adaptasi buku komik di masa depan. Mudah-mudahan saja kedua perusahaan film ini mampu membawa konsep multiverse tersebut secara sukses, sehingga genre adaptasi buku komik ini masih bisa terus berlanjut.