Armor Iron Man yang dimiliki oleh Tony Stark adalah salah satu senjata terkuat yang ada di Marel Cinematic Universe. Armor tersebut mampu membuat Tony untuk bisa terbang, menembakan sinar repulsor, meningkatkan kemampuan bertempur Tony Stark, dan masih banyak lainnya. Semua hal tersebut tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya penemuan terbesar dari Tony, yaitu miniatur Arc Reactor.

Arc Reactor tersebut menjadi pengganti jantungnya yang rusak dan juga menjadi sumber tenaga bagi seluruh armor yang dia kenakan. Arc Reactor sendiri merupakan hasil rancangan dari ayahnya, Howard Stark, yang kemudian disempurnakan oleh Tony. Dengan fakta bahwa Tony membuat semua itu dengan semua benda-benda rongsokan terlihat sangat mustahil, kecuali jika desain Arc Reactor terinspirasi dari sesuatu yang luar biasa diluar teknologi manusia.

Meskipun terdengar cukup aneh, namun ada kemungkinan jika versi MCU dari Arc Reactor Stark terinspirasi dari kekuatan dan teknologi canggih penduduk Asgard. Meskipun filmnya tidak mengkonfirmasi mengenai hal ini, tapi ada beberapa bukti yang cukup mendukung mengenai teori ini di awal MCU dibangun.

Howard Stark Meneliti Tesseract Untuk SHIELD

Dalam film Captain America: The First Avenger, Red Skull diperlihatkan berhasil mendapatkan kotak Tesseract. Red Skull mengaku bahwa Tesseract tersebut dia ambil dari lemari penyimpanan Odin. Filmnya kemudian menjelaskan bahwa Tesseract mengambil kekuatan dari salah satu Infinity Stone, yaitu Space Stone. Red Skull kemudian menjelaskan bahwa kotak tersebut sengaja dibuat oleh para ilmuwan/penyihir Asgard untuk membuat Space Stone tersebut aman.

Tesseract sendiri sudah jatuh ke beberapa tangan, sebelum kemudian jatuh ke tangan Howard Stark setelah dia menemukannya saat berusaha mencari keberadaan Captain America. Howard kemudian melakukan penelitian terhadap Tesseract selama beberapa tahun. Menurut Nick Fury dalam film Thor, Tesseract memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Karena itulah Howard kemudian melakukan penelitian terhadap sumber energi Tesseract saat benda tersebut ada di tangan SHIELD.

SHIELD sendiri memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan berbagai benda dengan kekuatan dahsyat, dan kemudian melakukan reverse engineering atau membalikan sesuatu yang berbahaya menjadi sesuatu yang berguna. Seperti dalam mini seri The Avengers Prelude: Fury’s Big Week, dimana para pembaca bisa melihat bahwa setelah SHIELD mendapatkan potongan tubuh dari robot Asgardian Destroyer, mereka mulai melakukan penelitian terhadap benda tersebut.

Mereka mencari tahu bagaimana caranya untuk bisa mengakses kekuatan dahsyat tersebut, yang nantinya bisa mereka gunakan untuk membuat atau menciptakan senjata yang jauh lebih kuat yang terinspirasi dari benda asing tersebut. Dan kemudian hasil penelitian tersebut bisa kita lihat dalam film Avengers pertama, saat Agent Coulson menembakan senjata dahsyat ke arah Loki.

Tapi, satu hal yang pasti adalah Howard tidak akan mungkin bisa dan mampu untuk menyerap seluruh kekuatan dari Tesseract karena adanya keterbatasan sumber daya dan teknologi. Karena itulah dia kemudian bekerja sama dengan ilmuwan Russia, Anton Vanko, dan kemudian membuat Arc Reactor pertama. Arc Reactor tersebut dibuat untuk menghidupi suplai listri di Stark Industries.

Riset Howard Stark Menjadi Jalan Dibuatnya Arc Reactor

Membuat sebuah Arc Reactor tentunya membutuhkan dana yang besar dan sepertinya bukan menjadi solusi yang tepat untuk menjadi sebuah energi alternatif. Tony Stark kemudian berhasil menyempurnakan penelitian ayahnya pasca sebuah kejadian hebat hampir saja merenggut nyawanya. Untuk kemudian bisa kabur dan menyelamatkan nyawanya, Tony Stark kemudian membangun versi miniatur dari Arc Reactor yang mampu menyalakan armor Iron Man pertamanya.

Meskipun Arc Reactor yang dibangun Tony sepenuhnya dibuat dengan teknologi manusia, desain yang digunakan oleh Tony adalah desain hasil penelitian Howard dan Anton Vanko. Tony kemudian menggunakan desain lain milik ayahnya untuk menciptakan sebuah elemen baru yang akan menjadi sumber tenaga bagi Arc Reactor yang dia bangun di masa depan, sebuah desain yang bukan hanya memberikannya kemampuan untuk bisa hidup lebih lama tapi juga menghilangkan efek samping dari benda tersebut.

Howard tidak akan pernah mampu mencapai apa yang Tony capai, karena pada saat itu teknologi yang digunakan belum cukup canggih. Jadi, dengan kata lain, elemen baru yang dibuat oleh Tony Stark sebenarnya bukanlah elemen yang baru dalam artian sebenarnya. Elemen tersebut menciptakan ulang elemen yang digunakan oleh Asgardian saat mereka membuat Tesseract dan menstabilkan Space Stone.

Armor Iron Man Terubung Dengan Kekuatan Asgard

Karena elemen buatan Tony tersebut digunakan di seluruh hasil penelitiannya dan juga armor Iron Man, artinya koneksi antara teknologi Stark dan teknologi Asgard semakin Kuat. Mungkin ini juga alasan mengapa Mark 85 bisa menjadi penghantar energi yang baik bagi petir Thor untuk digunakan menyerang Thanos dalam film Avengers: Endgame. Jika bukan karena adanya koneksi dengan teknologi Asgard, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Setelah bergabung dengan Avengers, Tony tentunya bisa lebih bebas lagi untuk melakukan penelitian terhadap teknologi Asgard dan teknologi alien lainnya berkat sosok Thor. Dan hal ini bisa menjadi alasan bagi Tony untuk kemudian terus melakukan peningkatan atau upgrade terhadap persenjataan dan teknologinya. Stark dan Banner memiliki kesempatan untuk meneliti tongkat Loki, yang terdapat Mind Stone di dalamnya. Dan hal itu kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Ultron.

Kemudian Happy Hogan juga menjelaskan bahwa “Thor’s Magic Belt” merupakan salah satu benda yang dipindahkan dari Avengers Tower ke markas baru Avengers. Bisa jadi benda tersebut adalah benda yang sama seperti dalam komiknya, dimana ketika Thor menggunakan sabuk tersebut maka kekuatannya akan bertambah dua kali lipat.

Ketika Tony Stark mendapatkan kesempatan untuk bisa melakukan penelitian terhadap teknologi Asgard, hasilnya sangat luar biasa. Tony benar-benar melakukan lompatan teknologi yang sangat jauh. Memang, semua itu berkat kecerdasan yang dia miliki. Tapi, rasanya kecerdasan tersebut dipadukan juga dengan berbagai teknologi canggih yang dia pelajari dari penduduk Asgard.

Tanpa adanya desain dari hasil penelitian Tesseract sebelumnya yang menjadi dasar semua teknologi yang dia buat, mungkin Tony akan merasa kebingungan dengan apa yang harus dia buat selanjutnya.