Buat Geeks para fans dari franchise Pirates of The Caribbean, pasti sudah sangat familiar dengan cerita The Flying Duitchman dalam filmnya. Meskipun cerita tentang Flying Dutchman dalam franchise ini sangat menarik, cerita aslinya sendiri tidak kalah menariknya dengan versi film. Kapal Flying Dutchman sendiri pertama kali muncul dalam film Pirates of The Caribbean: Dead Man’s Chest.

Kapal “hantu” tersebut dikemudikan oleh sosok bajak laut legendaris Davy Jones, sosok manusia dengan wajah gurita yang merupakan kekasih dari sang dewi laut, Calypso. Sama seperti kisah The Dutchman, kisah tentang Davy Jones juga sudah menjadi legenda tersendiri bagi para pelaut selama berabad-abad. Ada yang percaya bahwa Davy Jones adalah sang iblis itu sendiri.

Dalam tiga film pertama di franchisenya – The Curse of the Black Pearl, Dead Man’s chest, dan At World’s End – menghadirkan berbagai legenda yang ada di lautan selama berabad-abad. Pertama yaitu tentang Davy Jones, kemudian loker Davy Jones, dan yang terakhir adalah The Flying Dutchman. Lalu, bagaimana cerita asli tentang The Flying Dutchmen?

Menurut legenda aslinya, kapal The Flying Dutchmen merupakan sebuah kapal barang yang mengangkut sutra dan rempah-rempah. Kapal ini digunakan untuk berlayar dari Amsterdam ke East indies atau Hindia Timur pada abad ke 17. Kapten dari kapal ini adalah Hendrick Van der Decken. Saat perjalanan kembali menuju Amsterdam, Van der Decken kemudian mengambil jalan pintas ke sekitar Cape of Good Hope.

Sialnya, The Dutchmen justru terjebak dan berlayar menuju badai. Sayangnya, Van der Decken sudah terlambat menyadari bahwa dirinya salah mengambil keputusan. Beberapa orang menganggap Van der Decken sebagai orang yang gila atau pemabuk, yang mencoba menantang maut. Dalam versi lain, diceritakan bahwa Van der Decken membuat perjanjian dengan iblis untuk menyelamatkan wanita yang dia cintai.

Sang kapten sendiri dikabarkan akan muncul ke permukaan setiap tujuh tahun sekali sampai dia berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan. Namun, nasib dan takdir dari The Flying Dutchmen sendiri tetap sama: kapalnya hilang di lautan. Dan beberapa pelaut yang percaya akan hal mistis mengakui bahwa terkadang mereka melihat sebuah kapal hantu berada di atas ombak atau muncul dari bawah permukaan laut. Jika mereka melihat hal itu, dipercaya bahwa nasib buruk akan mendatangi mereka.

Dalam franchise Pirates of The Caribbean, cerita masa lalu dari The Flying Dutchmen adalah sebagai kapal untuk membawa jiwa-jiwa yang sudah mati di lautan menuju akhirat atau dunia lainnya. Calypso kemudian mempercayakan kapal tersebut kepada Davy Jones, dan mengangkatnya sebagai kapten kapal. Davy Jones sendiri berjanji bahwa setelah satu dekade dia menjalankan tugasnya, dia bisa kembali menemui Calypso.

Namun, setelah 10 tahun pertama Davy Jones menjalankan tugasnya dan kembali ke daratan, dia tidak bisa menemukan Calypso. Karena hal inilah Davy Jones kemudian meninggalkan tugasnya, berkeliling samudera sampai ratusan tahun untuk mencari para pelaut yang sekarat di lautan. Menurut Davy, bekerja dan mengabdi selama 100 tahun di kapal Dutchmen akan lebih baik daripada siksaan selamanya di neraka.

Davy Jones bahkan menggunakan kekuatan makhluk mitologi gurita rakasasa, Kraken, untuk menghancurkan kapal laut yang ada demi merekrut awak kapal yang baru. Berbeda dengan legenda aslinya, nasib dari kapal The Flying Dutchmen dalam franchise ini diakibatkan oleh adanya inkar janji dari kesepakatan antara sang dewi laut dan Davy Jones.

Pirates of The Caribbean berhasil menghadirkan berbagai legenda laut, sesuai dengan deskripsi mereka sendiri. Ada beberapa hal yang sama dengan versi aslinya, namun ada beberapa elemen juga yang coba dirubah dan disesuaikan dengan ceritanya. Yang pasti selalu menarik untuk menghadirkan berbagai legenda dan cerita mitos yang dibungkus secara apik dan menarik. Apakah dalam versi reboot nanti kita masih akan melihat berbagai legenda lautan lain? kita nantikan saja ya Geeks!

Irvan
Irvan adalah content writer yang berpengalaman lebih dari 5 tahun di bidang pop culture termasuk film, otaku stuff dan gaming. Di Greenscene, Irvan berfokus untuk coverage di topik seputar Otaku.