Setelah bergabungnya Spider-Man ke MCU, banyak orang yang menggambarkan bahwa Spider-Man merupakan Mickey Mouse versi Marvel. Semua orang suka Mickey Mouse, semua orang senang dengan Spider-Man. Keduanya merupakan brand yang sangat populer. Itulah mengapa Marvel sangat berkeinginan Spidey untuk bisa bergabung dengan Marvel.

Ketika Stan Lee dan Steve Ditko menciptakan Spider-Man, mereka menggambarkan sosok Spider-Man sebagai “Every-man Hero” atau pahlawan bagi setiap orang. Karakter ini sendiri diciptakan karena Stan Lee melihat (pada saat itu) bahwa remaja membutuhkan buku komik, dia pun kemudian mencoba untuk menghadirkan sosok pahlawan yang berasal dari kalangan mereka yaitu remaja.

Kehilangan sosok Spider-Man membuat MCU tidak lagi memiliki pahlawan setiap orangnya, yang mewakili penonton remaja. Untungnya, Marvel baru-baru ini menemukan sosok penggantinya yaitu Kamala Khan yang akan mendapatkan TV seriesnya di Disney Plus. Marvel sendiri sudah memberikan petunjuk tentang sosok Kamala Khan alias Ms. Marvel sejak tahun lalu, dan menjelaskan jika karakternya akan sesuai dengan apa yang ditampilkan di komik.

Mungin banyak orang yang lupa atau mungkin tidak tahu, bahwa karakter Kamala Khan mengambil pattern atau alur yang sama ketika Peter Parker dibuat. Sana Amanat dan Stephen Wacker melihat bahwa Kamala Khan merupakan pahlawan setiap orang, yang mewakili berbagai kompleksitas budaya modern, dan juga masyarakat yang beragam.

Ketika Peter Parker dibuat, awalnya dia digambarkan merupakan seorang remaha yahudi. Sedangkan Kamala Khan, merupakan seorang perempuan remaja beragama muslim. Cerita yang diangkat pun mencoba untuk menggali tentang keadilan sosial dalam konteks kepercayaan fundamental.

Steve Ditko dan Stan Lee mencoba untuk membangun sebuah ambience, suasana, dan sebuah pengalaman yang kuat tentang tempat dimana Peter Parker berada, yaitu New York. Para pembaca seolah memahami setiap sudut kota New York hanya dengan membaca komik Spider-Man. Konsep ini juga coba diaplikasikan dalam cerita Ms. Marvel, dengan membangun sebuah cerita dimana Kamala tinggal di lingkungan yang nyata.

Willow Wilson, penulis komik Ms. Marvel, juga melakukan hal yang sama dengan berbagai karakter pendukung di ceritanya sehingga seolah-olah Kamala Khan memang benar-benar berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Rasanya sulit untuk membangun ambience atau efek seperti di dalam komiknya di versi layar lebar. Mungkin itulah alasan mengapa Marvel Studio memilih untuk dibuat dalam bentuk series, dengan tujuan untuk memperkuat cerita dan dunia yang dibangun oleh Kamala.

Kamala juga memiliki idola, sama seperti Peter. Bedanya, jika Peter Parker mengidolak sosok bilyuner jenius Tony Stark alias Iron Man, Kamala Khan memiliki idola seorang Carol Danvers alias Captain Marvel. Bahkan, nama julukan Ms. Marvel yang dia gunakan sendiri diambil demi menghormati sosok idolanya (tentunya setelah Kamala meminta izin kepada Carol).

Meskipun Ms. Marvel memang populer, bukan berarti Ms. Marvel sama dengan Spider-Man untuk masalah dampak kultural, pengenalan brand, bahkan nilai merchandise dari brand. Ms. Marvel memang bisa dibilang sukses, tapi dia belum sukses besar. Tapi, Ms. Marvel merupakan karakter yang pas untuk menggantikan kehilangan Spider-Man bagi MCU. Marvel melakukan hal yang tepat dengan memperkenalkan Kamala Khan disaat Marvel kehilangan Peter Parker. Wise choice.