Episode terakhir dari musim terakhir dari Game of Thrones sudah tayang pada minggu kemarin. Musim kedelapan ini merupakan musim yang paling banyak menampilkan kematian para karakter penting dan juga merupakan musim yang paling banyak menimbulkan kontroversial. Yang paling menyita perhatian adalah bagaimana Daenerys berubah menjadi sosok jahat, yang menurut sebagian besar para fans dianggap terlalu terburu-buru.

Emilia Clarke berbicara kepada Variety tentang perjalanannya dalam berperan sebagai Daenerys dan juga tentang episode terakhir Game of Thrones. Clarke menuturkan jika dirinya melakukan sebuah persiapan yang cukup kontroversial saat melakukan riset untuk mempersiapkan pidato kemenangannya di musim terakhir.

Saat memberikan pidato-pidato kemenangan dalam bahasa yang bukan aslinya, aku menyaksikan banyak sekali video-video para diktator dan para pemimpin yang kuat yang berbicara dengan beragam bahasa untuk melihat jika aku bisa mengerti apa yang ucapkan tanpa pengetahui bahasanya. Dan Bisa! Kau bisa mengerti apa yang diucapkan oleh Hitler, para orator-orator yang berbicara dengan bahasa asing lainnya. jadi, aku pikir, ‘jika aku bisa percaya setiap kata yang aku ucapkan, para penonton tidak harus terlalu sering melihat subtitles.’

Hal ini tentunya mengejutkan. Daenerys sejak awal muncul di series ini dengan itikad yang baik, tapi seiring berjalannya waktu Daenerys kemudian percaya bahwa tujuannya hidup bukan hanya untuk menguasai Westeros melainkan juga untuk menghancurkan berbagai para pesaingnya yang ada di seluruh dunia jika diperlukan.

Meskipun banyak menuai kritik, Clarke menyebutkan jika musim terakhir khususnya episode terakhir tersebut tetap menggambarkan inti dari cerita Game of Thrones dan relasinya dengan karakter yang dia perankan. Yaitu pembahasan tentang kekuatan dan bagaimana menjadi seorang manusia, menjadi bagian dari kelompok lainnya, dan bagaimana takdirnya untuk melayani yang lainnya.