Review Aquaman: Penyelamat Atlantis dan DCEU

Rasanya kita tidaklah perlu membohongi diri sendiri. Kenyataannya banyak dari kita yang merasa skeptis dengan proyek film DC Extended Universe (DCEU) keenam  ini. Selain masih merasa trauma dengan proyek-proyek film sebelumnya, juga faktanya ini adalah film mengenai Aquaman.

Bukannya bermaksud merendahkan. Namun kenyataannya, sosok Aquaman memang kerap dicemooh oleh banyak orang. Ejekan-ejekan seperti: “Kuatnya cuma di air doang” bahkan “Kekuatannya cuma bisa ngomong sama ikan”, kerap kita dengar.

Belum lagi, film ini ditangani oleh sutradara spesialis horor James Wan (The Conjuring). Semakin skeptis sajalah kalau film yang dibintangi oleh Jason Momoa (Conan the Barbarian) sebagai si pahlawan supernya ini akan mampu menyelamatkan reputasi DCEU yang sudah terlanjur mengecewakan tersebut.

Namun ketika akhirnya menyaksikan, skeptis tersebut langsung berubah total menjadi dukungan penuh terhadap kelangsungan dunia sinematik DC ini hingga ke depannya.


Film DCEU Terbaik Semenjak Man of Steel


Yap Geeks. Dengan kata lain disini, Aquaman surprisingly, adalah film keluaran DCEU yang sangat memuaskan. Baika Geeks memang fanboy DC atau awam sekalipun, film ini akan membuat kalian tersenyum puas sendiri ketika menyaksikannya.

Bahkan bisa dikatakan bahwa film ini adalah film DCEU terbaik semenjak “sesepuhnya” Man of Steel (2013). Namun apabila dibandingkan dengan Wonder Woman (2017), bisa dikatakan kedua filmnya sama kerennya (memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing).

Akan tetapi terlepas pujian yang telah diberikan tersebut, bukan berarti film ini 100% sempurna. Oleh karenanya, mari kita bahas dulu kekurangan-kekurangan yang terdapat di filmnya ini.


Sedikit Plot Hole & Kurangnya Daya Juang


Mungkin beberapa dari Geeks akan tidak sependapat dengan ini. Namun, entah mengapa ketika menyaksikan filmnya, kami masih melihat ada beberapa plot hole yang membuat kami menjadi bertanya: “Loh kok bisa begitu?”

Mungkin menurut kami plot hole ini tampil karena Wan ingin membuat kita sebagai audies untuk langsung “tanggap” atau, bisa juga, untuk menghemat durasi. Kalau memang karena alasan kedua, tentunya sangat dimengerti. Tapi kalau karena alasan pertama, jujur kami jadi garuk kepala sendiri.

Kalau memang Wan ingin membuat kita langsung berpikir tanggap, mengapa ia banyak sekali menampilkan adegan eksposisi disini? Yap Geeks. Film ini menampikan banyak sekali penjelasan disana-sini. Mungkin di awal terlihat masalah. Namun lama-kelamaan lumayan terasa annoying juga.

Namun kekurangan yang membuat kami super duper greget adalah di adegan Arthur berjuang mendapatkan Triden emas yang ikonik itu. Entah mengapa menurut kami, perjuangannya tidaklah seperti berjuang sama sekali.

Oke, ia memilih jalan perjuangan yang lebih “diplomatis”. Namun melihat sosok Momoa yang sangar dan betapa vitalnya triden emas ini untuk menyelamatkan Atlantis an daratan (surface) dari tirani saudara tirinya Orm aka Ocean Master (Patrick Wilson), yeah, rasanya kami membutuhkan perjuangan yang lebih “berdarah-darah” dari yang telah ditampilkan.


Sub-plot Black Manta Yang Tak Perlu Ditampilkan


Sebenarnya semenjak diumumkan bahwa film ini juga akan menampilkan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II), kami sudah merasa was-was. Spesifiknya, dengan fokus kisah yang mengedepankan selisih paham antara Arthur dan Orm, kmi cemas penampilan karakternya di filmnya ini menjadi “pengganggu” saja.

Dan benar saja. Oke to be fair, setidaknya Wan cs sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melogikakan keterlibatannya di tengah-tengah konflik tersebut. Tapi tetap saja pada akhirnya ia terlihat sebagai karakter begundal yang tiba-tiba datang menganggu Curry dan Mera.

Untunglah Wan cs cepat menyadari hal tersebut dan langsung memutuskan untuk menggunakan perannya lebih jauh di sekuelnya mendatang. Dan yap Geeks. Kami yakin Aquaman akan diproduksi sekuelnya.


Atlantis Terlihat Seperti Kota Sungguhan


Seperti yang telah kami katakan, Aquaman adalah film terbaik DCEU sejauh ini setelah Man of Steel. Selain karena naskahnya yang mudah dicerna, jauh lebih light, serta keabu-abuan karakteristik karakter yang ditampilkan, film ini jugalah menampilkan visual efek yang sangat “kurang ajar” kerennya.

Wan beserta sinematografernya di The Conjuring 2 (2016), Don Burgess, sukses berat menampilkan kota Atlantis yang terlihat benar-benar realistis. Kota dalam air ini seakan memang eksi di dunia nyata. Ketika melihatnya, kami jadi flashback terhadap kota air serupa di Star Wars Episode 1: The Phantom Menace (1999), Gunggan City.

Namun tentunya, tampilan Atlantis di film ini jauh lebih keren daripada Gunggan. Seluruh aspek teknis positif ini semakin diperkuat dengan penampilan seluruh aktor dan aktrisnya yang sukses memerankan masing-masing karakternya. Jason Momoa sekali lagi sangatlah keren sebagai si superhero utama. Ia terlihat sangat cuek, slengean, badass, namun tetap terlihat rendah hati.

Ia bukanlah sosok yang ingin menjadi panutan apalagi, raja. Namun di saat yang sama, ia tahu betul kalau ia perlu menjadi pemimpin kampung halamannya apabila ia ingin menciptakan kententraman antara Atlantis dan daerah daratan.


Ocean Master si Penguasa Layar dan Lautan


Momoa memang bintang utamanya. Tapi bagi kami yang sukses mencuri perhatian adalah Wilson sebagai Ocean Master. Wilson lagi-lagi sukses membuktikan kalau ia memang lebih keren memerankan karakter antagonis daripada protagonis.

Selain itu perannya juga semakin memperkuat citra villlain DCEU yang selalu terlihat cukup konsisten di tiap-tiap filmnya. Hanya Zod-nya Michael Shanon di Man of Steel yang mampu menyaingin penampilan Wilson di film ini.

Oh ya hampir ketinggalan, adegan pertarungan antara dirinya dan Mamoa baik di babak pertama maupun baba final, juga bisa dikatakan sebagai adegan pertarungan final terbaik setelah adegan pertarungan final antara Zod dan Superman (Henry Cavill) di Man of Steel. Pertarungan terlihat sangat intens dan super emosional.


Kemenangan Besar Bagi DCEU


Sehingga bisa disimpulkan sekali lagi disini bahwa Aquaman sukses memberikan pukulan kemenangan bagi DCEU. Kalau Geeks masih ingat, kami pernah membahas apakah Shazam akan menjadi film yang menyelmatkan DCEU?

Well, setelah menyaksikan Aquaman, maka pertanyaan tersebut kini berganti menjadi: “Apakah Shazam yang menjadi film pembuka DCEU di 2019 mendatang, mampu meneruskan momentum kemenangan yang telah diberikan oleh Aquaman?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *