Ketika akhirnya menyaksikan filmnya, bisa dikatakan beberapa elemen Goosebumps ada di film ini. Namun, pada akhirnya film ini adalah The House with a Clock in its Walls. Lalu, apakah The House with a Clock in its Walls memang merupakan film yang fun dan enjoyable seperti yang dijanjikan oleh trailer-nya?


Dark Fantasy Yang Menghibur Keluarga


Kalau kita membicarakan sisi menghibur (enjoyable) maka film arahan Eli Roth (Hostel) ini bisa dikatakan samgat menghibur. Apalagi kalau kita menyaksikan bersama keluarga. Dijamin Geeks akan mendapatkan quality time yang sangat indah bersama keluarga.

Siapa sangka sineas yang terkenal dengan karya-karyanya yang gory dan seram-seram ini, mampu mengarahkan film yang jelas-jelas di luar rana genre-nya ini. Tapi, begitulah kenyataannya Geeks. Tanpa arahan mumpuninya dijamin film ini akan jauh dari kata menghibur yang telah dikatakan.

Sutradara asal Massachusetts ini, sukses besar menampilkan elemen fantasi yang merupakan esensi dari kisahnya tanpa kehilangan signature ketegangannya. Di tangannya, film ini terasa magis, lucu dan di saat yang sama terasa lumayan creepy. Joke-joke yang ditampilkan pun lumayan lucu walau beberapa diantaranya terkadang tidak terlalu mengena.


Pacing Yang Terlalu Cepat


Selain joke yang tidak terlalu mengena, pacing film ini entah mengapa dirasa terlalu cepat (to the point). Hal tersebut malah lebih bagus daripada bertele-tele kesana-kesini bukan? Tapi, justru pacing yang agak sedikit melambat justru diperlukan banget.

Pasalnya pacing yang tidak lansung “bak bik buk” ini, akan memberikan ruang penceritaan perkenalan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro) dengan sang pamannya yang adalah seorang warlock, Jonathan Barnavelt (Jack Black), terasa lebih detail dan mendalam.

Geeks ingat bagaimana pacing film Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001)? Kalau dipikir dengan durasinya yang 2, 5 jam, dengan pacing yang banyak eksposisi, akan terasa lama dan membosankan bukan?

Tapi mengapa banyak fans tidak merasa demikian? Karena memang filmnya harus diceritakan dengan pacing tersebut sehingga kita bisa menyaksikan sekaligus memahami secara mendalam lika-liku perjalanan hidup Harry (Daniel Radcliffe) di tahun pertamanya hingga akhirnya berakhir melawan musuh bebuyutannya, Voldemort (Ralph Fiennes).

Memang filmnya menampilkan bagaimana awal Lewis bertemu Jonathan dan tetangga sekaligus asistennya yang “unik”, Florence Zimmerman (Cate Blanchett) lalu, semakin lama ia tertarik untuk menjadi Warlock juga seperti sang paman.

Tapi seperti yang telah dikatakani, prosesnya ditampilkan dengan sangat cepat dan terlalu to the point yang alhasil membuat kita menjadi tidak peduli dengan perjalanan hidup Lewis. Apalagi kisah film ini memiliki 12 chapter dalam novelnya. Kalau Harry yang memiliki 7 novel saja bisa “take their time” untuk mengolah pacing-nya, mengapa The House with a Clock tidak bisa?


Chemistry & Kharisma Ajaib Black-Blanchett


Untungnya di tengah kebutnya pacing tersebut, Roth masih bisa menemukan celah untuk menampilkan adegan-adegan eksposisi yang membuat kita tetap terinformasikan latar belakang dari karakter-karakter yang ditampilkan.

Selain itu aspek penting lainnya yang menolong film ini habis-habisan adalah penampilan sekaligus chemistry ajaib dan tak disangka-sangka dari Hela dan Po. Oops maksud kami Black & Blanchett.

Kalau dipikir lagi, Jack Black dan Cate Blanchett.Yang satu komedik yang satu dramatis. Lebih jauh lagi sebelum dipertemukan di film ini, keduanya belum pernah tampil bareng. Mana mungkin bisa menampilkan chemistry keren? Tpai kenyataannya sekali lagi yang ada justru kebalikannya.

Kedua karakter yang mereka perankan bisa saling menopang satu sama lain yang alhasil membuat interaksi keduanya sangat dinamis. Belum lagi pada dasarnya keduanya memang merupakan sosok yang karismatik terlebih, Black. Intinya, kalau bukan karena keduanya, film ini dijamin akan sangat membosankan.

 


Debut Cengeng Vaccaro


Lalu bagaimana dengan Vaccaro? Apakah  ia sukses dalam peran utama terbesarnya ini? Bisa dikatakan di debut peran utamanya ini, aktor cilik yang pertama kali dikenal melalui perannya sebagai Dylan di Daddy’s Home (2015) ini cukup oke namun sayangnya, cengeng.

Kami tidak tahu ya apakah sosok Lewis di novelnya memang seperti ini. Tapi yang jelas di filmnya ini ia digambarkan bermental cengeng walau terkadang juga tidak demikian. Tapi di salah satu adegan ia ditampilkan menangis terisak-isak yang alhasil membuatnya terlihat seperti bocah laki-laki cengeng.

Kami memahami ketika ia seperti itu, adalah dikarenakan suatu hal yang sensitif yang berkaitan dengan ibunya yang sudah meninggal. Tapi menurut kami alangkah lebih baiknya apabila kesedihannya tidak ditampilkan dengan begitu cengeng. Tapi lepas dari komplain ini, overall Vaccaro tampil dengan cukup baik.

 


Debut Adaptasi Perdana Yang Cukup Menjanjikan


Pada akhirnya terlepas berbagai komplain yang telah disebut sebelumnya dan sosok villain utama yang memiliki motif sangat generik, The House with the Clock in its Walls, merupakan adaptasi yang sangat menghibur, misterius dan cukup seru.

Seperti yang dikatakan, kisah ini terbagi dalam 12 novel. Kalau memang ke depannya, pihak studio berencana untuk mengadaptasi juga 11 sisa kisahnya, semoga saja mereka bisa banyak mengambil pelajaran dari seluruh kekurangan yang terdapat di film ini.

Karena menurut kami, franchise ini berpotensi besar menjadi Harry Potter atau dengan kata lain, kisah franchise keren baru bagi audiens cilik zaman sekarang. Mari kita berdoa saja smeoga demikian.

Nah, bagi Geeks yang mungkin akhir pekan ini ingin mengajak keluarga untuk nonton bareng, pastikan kalian saksikan The House with the Clock in its Walls. Dijamin, waktu kalian bersama keluarga akan terasa sangat menyenangkan.

TINJAUAN IKHTISAR
Storyline
Acting
Cinematography
Music Scoring
Well-experienced Entertainment-Journalist, Semi-Pro Singer, Musicholic, Movie Lovers, WWE (Pro-Wrestling) Fans, 30's-50's enthusiast, DC Fanboy, Star Wars Fanboy, overall a 1-stop entertainment machine :)