Semenjak pertama kali ditampilkan di Sundance Film Festival, 21 Januari 2018, hampir sebagian besar audiens dan kritikus, mengatakan bahwa Hereditary, adalah film horor yang sangat emosional, menyedihkan (dalam konotasi positif) dan menyeramkan.

Pujian ini terasa semakin keren dan berarti mengingat, film ini, merupakan debut film penuh perdana sutradra Ari Aster (The Strange Thing About the Johnsons) yang sebelumnya, lebih dikenal menyutradarai film-film pendek (short film).

Berdasarkan review tersebut, maka tak heran apabila kita langsung tidak sabaran untuk menyaksikan film yang dilakoni oleh aktris super berbakat, Toni Collette (Little Miss Sunshine, Imperium) yang di film ini, memerankan seorang istri sekaligus ibu 2 anak, Annie Graham yang setelah kematian ibu kandungnya Ellen (Taper Leigh), dirinya beserta keluarga, mengalami peristiwa-peristiwa supranatural super menyeramkan.

Lalu apakah Hereditary memang semengerikan seperti yang dikatakan?

 


Mata & Otak Benar-Benar Dibikin Kacau  Tidak Karuan


Seperti yang kalian lihat di judul, Hereditary bukanlah sekedar seram. Keseraman film ini sangat membuat mata yang menyaksikan serta otak yang memproses transfer visual, benar-benar unsettling. Pokoknya seramanya langsung menyerang sisi psikologis!

Bahkan dari adegan pembuka yang menampilkan suasana upacara pemakaman privat Ellen, Aster langsung menaikkan tensi hingga 90. Dirinya benar-benar jenius dalam mengatur tensi adegan yang ada. Dengan kata lain, ia tahu kapan harus men-tease saraf takut, dan kapan harus melepaskan kengerian yang sudah terbangun tersebut.

Dan yang lebih penting lagi, dirinya tidaklah hanya menampilkan adegan-adegan seram yang bikin jantung kaget-kaget sendiri saja. Ya memang, ada 1-2 adegan yang bikin jantung “berdisko ria” tapi, itupun ketika diperlihatkan, memanglah merupakan adegan yang menyeramkan alias, tidak sekedar “false jump-scare. Tensi semakin menegang, dengan alunan scoring Colin Steston (12 Years a Slave) yang sangat mencekam.

 


Charlie = The New Damien Thorn?


Selain sukses menunjukkan kemumpuniannya dalam mengarahkan kisah dan tensinya, dalam debutnya ini, Aster juga sukses memukau kita dengan pengarahannya terhadap seluruh cast-nya. Sumpah Geeks! Tidak ada sama sekali performa “loyo” di film ini. Seluruh aktor menampilkan performa yang sama “sakit jiwanya”.

Collette lagi-lagi menunjukkan ke kita mengapa dirinya adalah salah satu sosok aktris yang paling dihormati di Hollywood. Si Lynn Sear di horor-psikologi hit, The Sixth Sense (1999), benar-benar sukses menghidupkan keterpukulan sekaligus kesialan yang dialami Annie yang sekali lagi, disebabkan kematian sang ibu serta kelakuan kedua anaknya yang “luar biasa” khususnya, si bungsu, Charlie (Milly Shapiro).

Gokil Geeks! Semenjak dirinya ditampilkan di adegan pertamanya, sosok gadis cilik ini langsung membuat kami tidak nyaman sendiri. Aura-nya terasa mistis banget. Otomatis kamipun juga makin penasaran untuk mengenalnya lebih jauh lagi.

Kami juga langsung terbayang dengan karakter cilik horor legendaris, Damien Thorn (Harvey Spencer Stephens) di The Omen (1976). Walau memang, secara karakter dan porsi peran, Charlie tidaklah se-signifikan si “anak setan” tersebut.

 


Tensi Drop Menjelang Akhir Film


Di kala tensi sudah menegang, penampilan seluruh aktornya sudah oke banget, serta metafora penderitaan sekaligus penyesalan telah ditampilkan dengan sangat mengagumkan, sangat disayangkan seluruhnya menjadi drop menjelang ending dan bahkan, ketika ending ditampilkan.

Kami tentunya tidak mungkin memberitahu seperti apa ending-nya. Tapi mari kita katakan saja, di kala kita sudah mengira bahwa peristiwa-peristiwa seram yang terjadi, disebabkan oleh faktor mistis yang “logis”,  layaknya seperti gerakan pamungkas pegulat WWE Randy Orton, RKO yang out of nowhere, kita dikejutkan dengan pengungkapan penyebab yang menurut kami pribadi, sedikit mengesalkan. Walau, memang kalau dipikir lagi, memang masih terlihat masuk akal banget.

So, berdasarkan pernyataan tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Hereditary, memang bukanlah film yang bakal memuaskan seluruh audiens. Pasalnya, ketika nanti menyaksikan ending-nya, kami yakin pastinya akan ada 50% yang suka dan 50% yang tidak. Dengan kata lainnya lagi, kengerian yang ditampilkan Hereditary sangatlah subyektif terhadap tiap-tiap audiens-nya.

 


Bakalan Meraih Nominasi Oscar?


Terlepas demikian, Hereditary, seperti hal-nya, A Quite Place yang dirilis awal April lalu, merupakan film horor cerdas dan terbaik yang dirilis di tahun 2018. Melihat aspek-aspek positif ini, semoga saja di ajang 91st Academy Awards tahun 2019 mendatang, film ini akan menyabet nominasi Oscar terutama Best Actress untuk Collette dan Best Supporting Actress untuk Shapiro.

Memang, kami sadar berdasarkan sejarah penghargaan tertinggi industri perfilman ini, sangat jarang untuk genre horor dinominasikan di penghargaan ini. Tapi mengingat Get Out (2017) di 90th Academy Awards awal Maret 2018 kemarin berhasil dinominasikan dan bahkan memenangkan Oscar, sepertinya kans bagi Hereditary untuk meraih kesuksesan yang sama, bukanlah sebuah hal yang mustahil. Well, let’s just wait & see Geeks!

TINJAUAN IKHTISAR
Storyline
Acting
Cinematohraphy
Music Scoring
Well-experienced Entertainment-Journalist, Semi-Pro Singer, Musicholic, Movie Lovers, WWE (Pro-Wrestling) Fans, 30's-50's enthusiast, DC Fanboy, Star Wars Fanboy, overall a 1-stop entertainment machine :)