11 Film Sci-Fi Berbudget Rendah Paling Epik!

Created By :
Via is reader, writer, and music playlist consultant for Greenscene.co.id, she is our little sister.

Film Science Fiction (sci-fi) selalu identik dengan film yang memiliki anggaran produksi besar dan menyuguhkan teknologi CGI yang sangat mewah. Namun, George Méliès membawa kita semua kesebuah film dengan anggaran fantastis pada tahun 1902 berjudul A Trip to the Moon (Le Voyage dans la Lune) yang terinspirasi dari berbagai sumber, termasuk novel karya Jules Verne yaitu  From the Earth to the Moon dan Around the Moon.

Meskipun film tersebut dibuat dengan anggaran sebesar 10,000 french francs (setara sekitar $33.000 saat ini), jumlah tersebut terbilang kecil untuk membuat film sci-fi di zaman sekarang ini, namun  A Trip to the Moon disebut sebagai salah satu dari 100 film terbaik dari abad ke-20 oleh The Village Voice dan mendapat peringkat ke-84. Sejak saat itu, cukup banyak film sci-fi dengan budget rendah yang mampu menarik perhatian para pecinta film, bahkan memang disebut-sebut sebagai salah satu film sci-fi terbaik. Nah, Geeks, berikut adalah 11 film yang dibuat dengan anggaran rendah, namun tetap berkualitas dan epik! Simak deretan filmnya dibawah ini :


District 9 (2009)


Pertama datang dari film berjudul ‘Dictrict 9’, yang disutradarai dan ditulis oleh Neill Blomkamp, diproduseri oleh Peter Jackson. Cerita film ini diadaptasi dari sebuah film pendek yang dirilis taun 2005, disutradarai juga oleh Blomkamp, berjudul ‘alive in Joburg’. Distric 9 merupakan sebuah film sci-fi (2009) yang dibintangi oleh Shartlo Copley (Wikus Van De Merwe), Jason Cope (Christopher Jonshon), dan Nathalie Boltt (Sarah Livingstone). Siapa sangka film bergenre Sci-fi ini hanya mengeluarkan biaya produksi sebesar $30 juta dan mampu mendapatkan lebih dari $200 juta diseluruh dunia. Neill Blomkamp berhasil memaksimalkan anggaran produksi film sci-fi ini dengan effect digital yang ‘epic’ dan menampilkan adegan yang memukau.

District 9 ini bercerita pada tahun 1982, ketika sebuah pesawat ruang angkasa melayang di atas Kota Johannesburg, Afrika Selatan. Pesawat tersebut ternyata membawa lebih dari satu juta alien yang berwujud seperti udang raksasa. Karena hal tersebut para penduduk menyebut alien itu dengan nama ‘prawn’. Para alien datang dalam keadaan sakit, sehingga dibentuk sebuah tim penyelamat yang disebut Multi National United (MNU) yang kemudian merelokasikan para alien tersebut ke sebuah kamp di wilayah kota Johannesburg, kamp ini disebut District 9.


Cloverfield (2008)


Cloverfield merupakan film garapan sutradara Matt Reeves didampingi oleh J.J. Abrams sebagai produser. Naskah film ini ditulis oleh Drew Goddard, menceritakan tentang sebuah dokumentasi misi penyelamatan seorang Robert Hawkins (Michael Stahl-david) bersama teman-temannya, untuk menyelamatkan kekasihnya yang bernama Beth (Odette Annable). Ia terjebak ditengah kekacauan kota Manhattan, New York akbiat ulah seekor monster bernama ‘Cloverfield’.

Film sci-fi horror ini menampilkan gambar adegan yang diambil oleh salah satu pemeran melalui handycam sehingga menambah ketegangan ceritanya. Kalian akan diajak sedikit pusing pada saat menontonnya karena akan dibawa kedalam tampilan video yang goyang, buram, dan sering kali tidak fokus, layaknya video dokumentasi. Mungkin agar menghemat anggaran untuk penggunaan effect digital dan CGI yang digunakan dalam film ini kurang begitu solid. Oleh karena itu, Cloverfield hanya mengeluarkan anggaran produksi sebesar $25 juta.


Ex Machina (2015)


Ex Machina merupakan film penuh obsesi dari penulis sekaligus sutradara Alex Garland, untuk mengangkat tema A.I (Artificial Intelligence). Dengan anggaran sebesar $ 15 Juta, film ini meraih $ 36 juta diseluruh dunia dan mendapatkan pujian yang kritis, juga dengan mudah dan cepat mampu mendapatkan tempat disamping banyaknya film sci-fi yang mengeluarkan anggaran fantastis. Sama seperti film sci-fi bertema A.I lainnya, film ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan manusia dan bagaimana kondisi mereka selama berada didunia manusia. Mereka juga mempunyai keinginan seperti kita manusia pada umumnya?

Meskipun film ini bergenre sci-fi dan ber setting di masa depan, selain menampilkan karakter Ava (Alicia Vikander) dengan sebagian tubuh robotiknya terlihat transparan dan wajah cantik yang (dibuat meyakinkan) ditempel di bagian tengkorak metal. Kalian pasti heran, karena Ex Machina ini nyaris tidak menggunakan effect digital, teknologi CGI, penggunaan greenscreen atau sensor yang dihadirkan dalam proses produksinya. Selain itu kalian pun tidak akan melihat set megah dan effect canggih seperti pada film Artificial Intelligence lainnya.


Chronicle (2012)


Sebagai sutradara muda Josh Trank terinspirasi untuk menciptakan ‘anthology of viral prank videos’ yang menampilkan anak-anak menggunakan kekuatan telekinetis mereka. Sebelumnya, Trank memiliki banyak pengalaman dalam menciptakan sebuah special effect, sehingga ia bisa secara signifikan mengurangi biaya anggaran produksi dengan berkomunikasi bersama perusahaan effect. Ini membuat Trank hanya mengeluarkan anggaran sebesar $12 juta untuk film ‘Chronicle ‘.

Film ini bercerita tentang tiga orang sahabat bernama Andrew (Dane DeHaan), Steve (Michael B. Jordan) dan Matt (Alex Russell) menemukan sebuah lubang berisi benda misterius saat menghadiri sebuah pesta sekolah. Benda tersebut ternyata berasal dari luar angkasa. Ia memancarkan cahaya aneh dan cahaya tersebut mengenai mereka bertiga. Tanpa mereka sadari, perubahan drastis terjadi pada diri mereka.


28 Days Later (2002) 


Film bergenre drama horror sci-fi ini disutradarai oleh Danny Boyle dan ditulis oleh Alex Garland. Alur cerita 28 Days Later ini ber set di Cambridge, mengisahkan para aktifis yang tidak sengaja melepaskan hewan terinfeksi virus menular di sebuah laboratorium dan berfokus pada perjuangan empat orang yang selamat untuk mengatasi kehancuran kehidupan. Dengan anggaran produksi $7 juta, 28 Days Later sukses secara komersial dan kritis, film ini dikreditkan dengan menghidupkan kembali genre zombie film horor dan merilis sekuel-nya pada tahun 2007.


Moon (2009)


Duncan Jones sebagai penulis sekaligus sutradara berhasil menyajikan film yang sangat mengagumkan, dan dibuat dengan anggaran produksi yang bisa dibilang sangat minim untuk ukuran film sci-fi yaitu $5 juta. Film ini dibuat untuk aktor Sam Rockwell (Sam Bell), berkisah tentang seorang astronot yang mengalami masa krisisnya saat ia berada dalam perjalanan misi selama 3 tahun yang menyendiri jauh di Bulan.

Seperti banyak film dengan anggaran rendah lainnya, Moon sangat diuntungkan dari Jones yang memanfaatkan pengalamannya untuk menciptakan special effect, demi menekan biaya produksi. Dibuat dengan pemeran berukuran kecil, pengambilan gambar ‘short shoot’, dan penggunaan miniatur yang cerdas dengan menyajikan effect mahal, dapat kalian pastikan Moon adalah film yang dibuat dengan anggaran rendah.


THX 1138 (1971)


Mungkin sebagian dari kalian masih asing dengan film garapan George Lucas yang berjudul THX 1138 buatan tahun 1971. George Lucas terkenal dengan film Star Wars, sebagai pendiri dan CEO dari Lucasfilm Limited, sebelum perusahaan tersebut dijual kepada The Walt Disney company pada tanggal 30 Oktober 2012.

THX 1138 adalah film pelopor dalam gaya dokumenternya (gaya yang akan digunakan oleh banyak film sci-fi anggaran rendah di masa depan). Gaya itu dipilih sebagian karena alasan anggaran, tapi juga karena Lucas menginginkannya tampil seperti dokumentasi visual aktual kejadian dimasa depan.

Dalam menciptakan dunia futuristik yang nyata dengan anggaran rendah yaitu $4.4 juta, dalam penggunaan setnya sangat dimaksimalkan. Untuk memberikan tampilan futuristik, film ini mengambil point view yang tidak normal dengan cara yang kreatif. Terdapat banyak properti yang gunakan merupakan benda dunia nyata yang diadaptasi untuk memiliki fungsi penggunaan futuristik, sebuah pengalaman yang berharga saat Lucas membuat Star Wars sehingga menjadi film sci-fi sangat digemari para movie geeks sampai saat ini.


Safety Not Guaranteed (2012) 


Terinspirasi dari iklan baris dalam Backwoods Home Magazine yang mencari partner untuk sebuah perjalanan traveling, film Safety Not Guaranteed adalah kisah menghangatkan hati tentang persahabatan yang dibalut dengan beberapa konsep bertema sci-fi dalam sebuah perjalanan traveling. Debut sutradara Colin Trevorrow membuatnya cukup credible untuk Universal dan Lucasfilm yang akhirnya mepercayakan Colin untuk menulis naskah film Jurassic World dan sebagai co-writter film Star Wars: Episode IX.

Film bergenre comedy drama romance ini tidak terlalu ambisius untuk mendapatkan tema sci-finya dan kurang mengesankan, tampaknya itu yang membuat film ini mengeluarkan biaya sebesar $750.000 untuk anggaran produksinya.


Monsters (2010) 


Berikutnya film sci-fi trhiller yang dirilis pada 1 Desember 2010 (Indonesia) ini ditulis dan disutradarai oleh Gareth Edward dalam debutnya sebagai sutradara. Monster mengambil alih sebuah tempat, bertahun-tahun setelah menyelidiki sebuah kecelakaan NASA di Meksiko yang menyebabkan munculnya monster tentakel raksasa. Diikuti Andrew Kaulder (Scoot McNairy), seorang photojournalist Amerika yang bertugas mengawal anak dari atasannya Samantha Wynden (Whitney Able) kembali ke A.S dengan melintasi “Zona Terinfeksi” Meksiko di mana makhluk (monster) itu berada.

Selain sebagai penulis sekaligus sutradara film ini, Edward juga menjabat sebagai cinematographer, production designer, dan visual effects artist. Ia mengerjakan semua itu dikamarnya dan menggunakan komputer miliknya sendiri. Terkadang itu menjadi cara terbaik untuk memaksimalkan anggaran rendah, melakukan beberapa pekerjaan oleh satu orang dan Edward melakukannya dengan anggaran $500.000.


Upstream Color (2013)


Menandai sebagai film kedua dari sutradara Shane Carruth, Upstream Color adalah sebuah film abstrak yang memiliki beberapa konsep bertema sci-fi. Upstream Color merupakan tentang dua orang yang perilakunya dipengaruhi oleh parasit kompleks tanpa sepengetahuan mereka, mengalami tiga tahap siklus hidup, dari manusia ke seekor babi lalu menjadi anggrek.Yang menakjubkan dari hal tersebut adalah film ini memiliki kemiripan yang hebat dengan film seperti The Tree of Life (Terrance Malick) atau pun Magnolia (Paul Thomas Anderson), namun berbeda dari segi anggaran yang dikeluarkan.

sama seperti Gareth Edward, Shane Carruth sangat memaksimalkan anggaran produksi sebesar $50.000 untuk film ini. Ia merangkap pekerjaannya sebagai penulis, sutradara, produser, komposer, editor, cinematograper dan camera operator. Carruth harus mengorbankan waktu tidurnya untuk mewujudkan film Upstream Color.


Primer (2004)


Yang terakhir, merupakan sebuah film sci-fi thriller pertama dari Shane Carruth, ia telah mengembangkan kultus berikut sebagai salah satu film perjalanan waktu paling rumit yang pernah dibuat. Sampai hari ini, orang masih menyempurnakan diagram dari berbagai garis waktu yang terdapat dalam film Primer. Menceritakan tentang dua ornag insinyur yang bernama Aaron dan Abe, melakukan sebuah penelitian melibatkan tentang pengurangan elektromagnetik.

Hal yang paling ‘gila’ tentang film Primer adalah bahwa Carruth, yang sebelumnya bekerja sebagai matematikawan (mantan insinyue), tidak mengetahui bagaimana cara untuk membuat film. Ia tidak mengenal proses pencarian produser, mendapatkan dukungan, mempekerjakan kru, atau semua mengenai film. Dalam film ini, Carruth juga sebagai penulis, sutradara, produser, editor, dan dibintangi juga oleh Shane Carruth. Bukan tidak mungkin dengan anggaran yang rendah, sebuah film tidak bisa memiliki potensi yang besar, terbukti dengan Primer dengan anggaran yang sangat minimal yaitu sebesar $7000.

_

Itulah tadi beberapa film bertema sci-fi terbaik dengan anggaran cukup rendah. Mungkin ini juga bisa menambah list film sci-fi kalian, untuk mengisi hari libur sekaligus menjadi hiburan yang menarik. Apakah kamu memiliki film sci-fi dengan anggaran rendah lainnya, yang belum terdapat dalam pembahasan diatas? Kamu bisa menambahkannya dikolom komentar dibawah ini ya Geeks.